“Baik dan Buruk Seorang Ibu Rumah Tangga Membuka Usaha Sendiri - Dream”

Jumat, 11 September 2015

“Baik dan Buruk Seorang Ibu Rumah Tangga Membuka Usaha Sendiri - Dream”


Baik dan Buruk Seorang Ibu Rumah Tangga Membuka Usaha Sendiri - Dream

Posted: 10 Sep 2015 06:39 PM PDT

Dilema seorang ibu adalah memilih menjadi `full time mom` atau `nyambi` membantu keuangan keluarga dengan bekerja atau berbisnis.

Dream - Pada abad 21 ini banyak sekali dijumpai ibu-ibu yang beralih menjadi pengusaha sukses, entah itu di bidang teknologi, publikasi, jasa, dan sebagainya.

Nama-nama seperti penulis JK Rowling, perancang busana khusus ibu-ibu Liz Lange, pemilik perusahaan mainan dan multimedia Julie Aigner Clark tentu sudah tidak asing bagi kita.

Mereka adalah ibu-ibu rumah tangga pebisnis alias 'mompreneur' yang memiliki mimpi luar biasa untuk memulai sebuah usaha dan kemudian terjun ke dalam persaingan yang keras, tanpa meninggalkan kewajiban sebagai ratu rumah tangga.

Namun menjadi seorang mompreneur tentu ada suka-dukanya. Ada sisi baik (The Good), sisi buruk (The Bad), dan sisi jelek (The Ugly). Berikut berbagai sisi menjadi mompreneur yang dikutip dari Enterpreneur, Jumat, September 2015.

The Good

1. Kebebasan dan kemandirian yang luar biasa. Menciptakan usaha sendiri seperti menjadi guru les, penulis lepas, jualan online dan sebagainya yang bisa dikerjakan dari rumah adalah model bisnis terbaik bagi seorang ibu rumah tangga. Yang paling menyenangkan adalah kemandirian dan fleksibilitas serta kontrol waktu yang sungguh tak ternilai harganya.

2. Potensi pendapatan yang hampir tak terbatas. Keuntungan besar dari menjalankan bisnis sendiri adalah pendapatan yang hampir tak terbatas. Dengan sedikit sentuhan pada hobi atau ketrampilan yang kita miliki, kita akan membuat perubahan besar terkait pendapatan bulanan atau tahunan. Kita bisa mendapatkan apa yang diinginkan, tanpa perlu menunggu pemberian pasangan.

The Bad

1. Bisnis startup berjalan lambat, pendapatan bisa lebih lambat. Awalnya, saat memulai bisnis startup, kita selalu membayangkan semuanya berjalan mudah, murah, dan stabil. Tetapi asumsi seperti itu kadang justru menipu. Butuh waktu sekitar satu tahun atau lebih sebelum bisnis bisa berdiri sendiri dan menghasilkan.

Jika bisnis berjalan lambat sementara penghasilan hampir tidak ada, maka perlu untuk waspada. Apalagi bagi mompreneur yang sering menggunakan uang tabungan rumah tangga untuk membiayai atau mensubsidi bulan-bulan atau tahun-tahun awal bisnisnya. Ini bisa menjadi risiko yang sangat besar dan tidak boleh dianggap ringan.

2. Semuanya dikerjakan sendiri. Mungkin bagi sebagian orang, mengerjakan sendiri semua urusan bisnis akan lebih mudah dan menghemat biaya. Selain itu pendapatan juga tidak perlu dibagi dengan orang lain. Namun manusia memiliki batas sehingga memerlukan bantuan orang lain. Kita mungkin jago dalam bidang yang kita sukai, tetapi tidak ada orang yang pintar dalam segala hal.

The Ugly

1. Membuka usaha berarti aktivitas malah bertambah. Meluncurkan bisnis baru berarti lebih banyak waktu yang dihabiskan untuk bekerja. Tergantung pada jenis usahanya, mompreneur sering terjebak dalam kerja penuh waktu. Padahal intinya memperoleh pendapatan tambahan di waktu luang.

Saat memulai usaha banyak hal yang harus dikerjakan. Mulai dari mengatur rencana bisnis, menyewa staf, menguji produk hingga menyempurnakan branding. Yang semuanya membutuhkan lebih banyak waktu ketimbang hari-bari biasanya.

2. Bisnis bisa menyebabkan perselisihan rumah tangga jika tidak ada dukungan. Mompreneur cerdas selalu mengembangkan bisnis seputar hobi mereka. Tapi apa yang terjadi jika di satu sisi mompreneur sangat suka dengan bisnis yang dia jalankan, sementara pasangan atau anggota keluarga lainnya tidak? Tentu saja usaha tersebut akan berjalan pincang. Bukannya memperoleh pendapatan tambahan, tetapi menimbulkan kerugian dalam hal finansial dan hubungan kekeluargaan.

Untuk itu pastikan selalu berbicara dengan pasangan dan anggota keluarga lainnya tentang usaha bisnis yang akan dijalankan. Sehingga mereka akan memberikan dukungan dan bisa menyesuaikan diri dengan perubahan rutinitas seorang mompreneur.

Ironisnya, mompreneurship ternyata sangat persis dengan kondisi menjadi seorang ibu: menyenangkan, indah dan menakjubkan tetapi juga menantang, memakan waktu dan kadang-kadang menguras pikiran.

Suka artikel ini ?

RELATED NEWS

  • Baik dan Buruk Seorang Ibu Rumah Tangga Membuka Usaha Sendiri

    Ini 5 Alasan untuk Memulai Bisnis

  • Baik dan Buruk Seorang Ibu Rumah Tangga Membuka Usaha Sendiri

    3 Cara Jual-Beli Saham dengan Modal Kecil

  • Baik dan Buruk Seorang Ibu Rumah Tangga Membuka Usaha Sendiri

    M Iming, Cerita Sukses Kopiah Berumur 100 Tahun

This entry passed through the Full-Text RSS service - if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers.

Diposkan oleh iwan di 01.07  

0 komentar:

Poskan Komentar