“Bencana Alam Hantui Sektor Usaha Di Indonesia - Bisnis.com (Siaran Pers)”

Kamis, 19 Maret 2015

“Bencana Alam Hantui Sektor Usaha Di Indonesia - Bisnis.com (Siaran Pers)”


Bencana Alam Hantui Sektor Usaha Di Indonesia - Bisnis.com (Siaran Pers)

Posted: 18 Mar 2015 04:40 AM PDT

Bencana Alam Hantui Sektor Usaha di Indonesia

Letusan Gunung Kelud sempat mematikan sentra usaha di Jatim.

Ilustrasi/Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA - Risiko bencana alam masih menjadi ancaman utama terhadap keberlangsungan industri di Indonesia pada tahun ini.

Hal tersebut terungkap dalam survei Allianz Risk Barometer 2015 yang menyatakan faktor risiko bisnis terbesar datang dari bencana alam, dan diikuti oleh kebakaran atau ledakan.

"Manajemen risiko harus dapat merefleksikan fakta terbaru ini. Perusahaan harus mampu mengidentifikasi tingkat bencana di masing-masing daerah guna meminimalkan potensi kerugian," kata Wiyono Sutioso, Wakil Direktur Utama PT Asuransi Allianz Utama Indonesia (Allianz Indonesia), seperti dilansir dari keterangan resminya, Rabu (18/3/2015).

Mengutip data Asian Development Bank (ADB), sepanjang 1970-2012, lebih dari setengah kematian di dunia diakibatkan oleh bencana alam yang terjadi di kawasan Asia Pasifik. ADB bahkan memprediksi sekitar 1,8 juta orang meninggal akibat bencana alam dan kerugian material mencapai US$1,5 triliun pada periode yang sama.

Namun sayangnya, tambahnya, para pelaku bisnis di Indonesia, belum sepenuhnya menyadari pentingnya aspek pencegahan, berupa manajemen risiko terhadap gangguan tersebut.

Tak kalah pentingnya, pebisnis juga harus menyadari adanya risiko kebakaran dan ledakan terhadap usahanya. Risiko tersebut dapat menyebabkan kerugian material, stagnasi kegiatan usaha, kerusakan lingkungan, maupun menimbulkan ancaman terhadap keselamatan jiwa manusia.

"Kami melihat saat melakukan penilaian risiko asuransi properti dan bisnis pada  perusahaan di Indonesia, masih banyak kekurangan dan celah bagi pencegahan risiko 
kebakaran dan ledakan ini," ungkap Wiyono.

Oleh karena itu, bagi perusahaan asuransi, salah satunya Allianz Indonesia, kesiapan dan ketersediaan sistem keselamatan dan proteksi kebakaran menjadi pertimbangan dalam memberikan proteksi risiko bisnis kepada sebuah perusahaan.

Sementara itu, studi yang dilakukan melalui survei kepada lebih dari 500 pengelola risiko (risk managers) kepada para pelaku bisnis global di 47 negara ini juga menemukan bahwa kelangsungan bisnis di dunia menghadapi tantangan baru yang muncul dari lingkungan perusahaan.

Risiko tersebut antara lain gangguan usaha dan jaringan distribusi dengan porsi 46%. Lainnya, risiko bencana alam 30%, risiko kebakaran dan ledakan 27%, risiko dari dunia maya dan risiko politik masing-masing 17% dan 11%.

"Meningkatnya ketergantungan antara satu bisnis dengan proses bisnis lainnya menyebabkan peningkatan skenario gangguan usaha. Akibatnya, efeknya bisa dirasakan hingga berkali-kali lipat," ucap CEO of Allianz Global Corporate & Specialty SE (AGCS) Chris Fischer Hirs.

This entry passed through the Full-Text RSS service - if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers.

Diposkan oleh iwan di 01.54  

0 komentar:

Poskan Komentar