“PELUANG USAHA: Menapak Laba Dari Bisnis Sandal Jepit Cantik - Bisnis Indonesia”

Rabu, 25 Februari 2015

“PELUANG USAHA: Menapak Laba Dari Bisnis Sandal Jepit Cantik - Bisnis Indonesia”


PELUANG USAHA: Menapak Laba Dari Bisnis Sandal Jepit Cantik - Bisnis Indonesia

Posted: 24 Feb 2015 10:32 PM PST

Bisnis.com, JAKARTA - Sandal merupakan salah satu item fesyen yang hampir pasti dimiliki oleh semua orang. Jenis dan macamnya bervariasi, sehingga bisa disesuaikan dengan gaya si pengguna, salah satunya adalah sandal jepit.

Kesan santai dan kasual yang melekat pada sandal jepit membuat jenis alas kaki ini digemari banyak orang. Seseorang bisa memiliki lebih dari sepasang sandal jepit. Pasar yang luas tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi para produsen sandal jepit untuk meraup untung dalam bisnis tersebut.

Di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat ini, apalagi pemain baru juga terus bermunculan, produsen sandal jepit berlomba-lomba menawarkan produk yang bisa memikat pasar, salah satunya dengan memodifikasi bentuknya. Salah satu pemain yang bermain di bisnis ini adalah Sulistianingsih.

Dia tertarik membuat sandal jepit cantik ketika melihat produk serupa di salah satu toko oleh-oleh. Produk tersebut, menurut dia, menarik dan relatif mudah dibuat. "Saya lihat itu cuma sandal biasa yang dimodifikasi dengan tambahan pita dan manik-manik, sederhana tetapi cantik," katanya.

Melihat peluang yang cukup bagus, perempuan yang berdomisili di Tangerang, Banten tersebut mencoba untuk menekuni bisnis ini. Dia pun menghubungi beberapa produsen sandal karet dari Jawa Tengah dan Jawa Timur, sebagai pemasok bahan baku, yakni sandal itu sendiri.

Sandal jepit yang dipilihnya bisa dibilang berkualitas tinggi, berbeda dengan sandal jepit karet biasa yang mudah ditemukan di warung-warung kelontong. Campuran karet dan busa membuat produk sandal itu kuat sekaligus empuk saat dikenakan.

Dia mengaku tidak kesulitan untuk mencari produsen sandal jepit yang diinginkannya karena banyak tersebar di berbagai daerah di Pulau Jawa. Kualitas dan harga yang ditawarkan pun bervariatif.

Di tangan Sulis, sandal jepit polos itu disulap menjadi sandal cantik. Dia mengubah wujud sandal itu dengan menambahkan pita dan manik-manik. Teknik yang digunakan ketika menghias produk itu, diakui Sulis, berbeda dari sandal hias kebanyakan.

Teknik lilit pita yang dirangkai langsung dengan manik-manik di tali sandal, membuat hiasannya lebih kuat dibandingkan dengan teknik pemasangan menggunakan lem."Selama ini yang saya lihat kebanyakan menempelkan manik-manik dan pita menggunakan lem, jadi rawan copot kalau sering terkena air," katanya.

Proses produksi sandal hias ini tidak membutuhkan waktu lama. Dengan tangan terampil, sepasang sandal jepit bisa berubah lebih cantik dalam waktu sekitar 20 menit. Dalam sehari, Sulis mampu memproduksi sandal cantik sebanyak 10 pasang, dengan dibantu seorang tenaga kerja.

Harga yang ditawarkan untuk sepasang sandal jepit hasil modifikasi Sulis juga terbilang terjangkau. Sepasang sandal dibanderol dengan harga Rp30.000 bagi pembeli eceran, sedangkan bagi reseller  dan grosir dihargai Rp27.000 per pasang.

"Margin keuntungan yang bisa didapat sekitar 20%," paparnya. Selama ini, Sulis memproduksi sandal dengan sistem stok untuk menyuplai produk ke toko-toko grosir langganannya dan lima reseller yang berada di daerah Lampung dan Pulau Jawa.

Grosir dan reseller-nya tersebut biasanya memesan sekitar dua kodi dalam sekali pesan untuk meminimalisasi ongkos kirim. Kendati hanya memproduksi sandal hias sesuai desainnya, dia tidak menutup kemungkinan untuk memproduksi sandal sesuai dengan desain yang diinginkan pelanggan.

Hanya saja, proses produksi sandal sesuai pesanan konsumen ini membutuhkan waktu sekitar empat hingga lima hari. Soal urusan warna, pembeli hanya bisa memilih warna yang tersedia dari pasokan vendor.

"Pasokan dari tiap pabrik itu berbeda-beda, bisa saja warna yang diproduksi bulan ini tidak keluar lagi pada bulan depannya," katanya. Melihat persaingan di bisnis ini yang tergolong ketat, Sulis mengaku sangat mengandalkan kualitas produknya agar bisa tetap bertahan di bisnis tersebut. Oleh karena itu, ketelitian, kerapian, dan kekuatan pemasangan aksesori selalu dinomorsatukan.

Strategi ini, diakui Sulis, memang menjadi salah satu kendala untuk meningkatkan kapasitas produksinya yang masih terbatas. Pasalnya, tidak banyak orang yang mahir dalam menghias sandal jepit sesuai dengan standar kualitas yang ditetapkan.

Kendati demikian, Sulis tetap optimistis bisnis yang dirintisnya tersebut masih memiliki prospek dan peluang yang cerah, dengan catatan dia harus terus berinovasi dan menghadirkan produk yang berkualitas.

PRODUSEN SENDAL BALI

Selain Sulistianingsih, pelaku usaha yang tergiur untuk terjun dalam bisnis pembuatan sandal jepit adalah Ermia Suyatman. Dia mengawali bisnis ini sejak 2009. Produk yang ditawarkan adalah sandal Bali.

Sandal Bali pada awalnya dikenal sebagai sandal jepit yang biasa digunakan ke pantai dengan aksesori bunga. Seiring dengan perkembangan tren, sandal Bali kini hadir lebih modern, tetapi tetap mengangkat ciri khas Bali.

Ermia mengaku pertama kali mendapatkan ide untuk memproduksi sandal saat melihat tren sandal yang sering menjadi suvenir dan buah tangan wisatawan yang berlibur ke Bali. Dia melihat kualitas yang ditawarkan sangat rendah, sementara harga yang dibanderol terbilang tinggi.

"Banyak sandal yang ditawarkan di butik-butik di kawasan Seminyak, Bali. Harganya sangat mahal dan tidak sebanding dengan barangnya," paparnya.

Sejak saat itu, dia tergerak untuk memproduksi sandal dengan harga murah tetapi berkualitas tinggi. Dengan modal awal kurang dari Rp1 juta, perempuan yang berdomisili di Denpasar itu pun mulai merintis usahanya.

Modal yang dimiliki tersebut digunakan untuk membuat beberapa seri sandal dengan menggunakan jasa maklun yang banyak tersebar di Bali. Ermia mengklaim hanya menggunakan bahan yang berkualitas, mulai dari aksesori, sol, hingga lem.

"Satu-satunya yang menjadi pembeda dari sandal yang saya buat dengan sandal lainnya adalah kualitas dan desain yang saya rancang sendiri," katanya. Dikisahkan Ermia, pada awalnya sandal produksinya hanya dipasarkan ke orang-orang terdekatnya. Respons yang diterima sangat baik. Dari situ, timbul tekad untuk menyeriusi bisnis tersebut, dengan menggenjot pemasaran melalui website sandalbali.com.

Sekarang ini, produksi sandal sudah dilakukan sendiri dengan mempekerjakan beberapa tenaga kerja. Dalam satu bulan, dia bisa memproduksi hingga 100 pasang sandal.

"Hal yang paling rumit dari pengerjaan sandal ini terletak pada pemasangan manik-manik, karena harus dilakukan satu per satu. Pengerjaan satu sandal bahkan bisa sampai dua bulan jika desainnya rumit dengan penggunaan manik-manik yang banyak," katanya.

Meskipun pengerjaannya tergolong rumit, harga yang ditawarkan sandalbali.com tidak selangit. Ermia hanya mematok harga sekitar Rp50.000—Rp60.000 per pasang untuk harga eceran, dan Rp45.000 untuk para reseller.

"Omzet yang bisa kami dapat lebih dari Rp10 juta setiap bulannya, dengan margin keuntungan sekitar 20%—25%," imbuhnya.

Setelah menjalani bisnis ini selama 5 tahun, Ermia mengaku kendala utama yang dia rasakan lebih pada persaingan bisnis. Produsen sandal lainnya, tutur Ermia, bisa memberikan harga yang lebih rendah untuk masuk ke toko-toko suvenir yang ada di Bali, dengan menekan kualitas produksi mereka.

"Harga yang diminta toko terlalu rendah untuk hitungan saya, jadi saya tidak bisa bersaing untuk merebut pasar wisatawan," katanya.

Untuk itu, sejak 2011 dia hanya fokus menjual produk sandalnya secara online, dan menjangkau pasar yang lebih luas dengan menggandeng sekitar 100 reseller yang tersebar di berbagai daerah.Ke depannya, Ermia akan terus memproduksi sandal dengan desain yang lebih variatif. Dia juga bertekad meningkatkan kapasitas produksi untuk memenuhi pesanan dan permintaan dari para pelanggannya.

This entry passed through the Full-Text RSS service - if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers.

Diposkan oleh iwan di 01.32  

0 komentar:

Poskan Komentar