“Kejujuran Adalah Segalanya - BeritaSatu”

Selasa, 14 Oktober 2014

“Kejujuran Adalah Segalanya - BeritaSatu”


Kejujuran Adalah Segalanya - BeritaSatu

Posted: 13 Oct 2014 11:09 PM PDT

Kata jujur dan pantang menyerah mungkin terlalu biasa bagi banyak orang. Tapi bagi Benny Kurniajaya, chief executive officer (CEO) Jakarta International Machine Center (Jimac) Group, kedua kata itu memiliki makna yang amat dalam.

Benny menjadikan kata jujur dan pantang menyerah sebagai filosofi dalam setiap detail kehidupannya. Dengan memegang teguh nilai-nilai kejujuran dan tak kenal menyerah, Benny kini memetik hasil jerih payah perjuangannya selama puluhan tahun. Perusahaan yang didirikannya, Jimac Group, kini menjadi pemegang authorized distributor dan satu-satunya dealer alat berat asal Tiongkok, Sany Group, di Indonesia.

"Bagi saya, jujur dan pantang menyerah adalah modal utama dalam menjalankan bisnis. Kalau tidak jujur dan mudah menyerah, tidak mungkin saya bisa seperti ini," ujar Benny di Jakarta, baru-baru ini.

Benny merasakan betul ampuhnya kejujuran dan perjuangan tak kenal lelah alias pantang menyerah. "Kalau menyerah sewaktu krisis moneter 1998, saya pasti bangkrut. Kalau tidak jujur, mustahil saya bisa bekerja sama dengan investor dan melanjutkan bisnis," tegasnya.

Rupanya, memegang authorized distributor Sany Group tidaklah cukup bagi Benny Kurniajaya. Pria kelahiran Medan, 29 Agustus 1959, ini bertekad menjadikan Indonesia tidak hanya sebagai pasar, tapi juga basis produksi. Berikut hasil wawancara dengannya.

Bagaimana Anda merintis bisnis alat berat?
Saya mulai berbisnis sejak usia remaja, tahun 1970-an. Saya terjun ke berbagai bidang usaha sebagai marketing, kemudian menjadi pemasok pasir glass dan beberapa bidang bisnis lainnya. Lalu pada 1987, saya mulai merintis bisnis alat berat bekas yang saat itu sedang berkembang. Waktu itu kebanyakan alat bekas diimpor dari Jepang, baru kemudian kami perbaiki di sini.

Modal saya saat itu hanya Rp 200 juta untuk alat berat bekas dam rental. Kemudian saya membeli lahan di kawasan industri Cakung dan mendirikan PT Unitrindo Perkasa. Setelah itu, bisnis saya terus berkembang dan saya bisa melakukan lelang alat berat bertaraf internasional serta mendirikan International Auction Multi Machine (IAM), perusahaan lelang alat berat hasil kerja sama dengan perusahaan Jepang. Waktu itu, saya terobsesi membuat Jakarta menjadi pusat lelang kelas internasional.

Kalau lelang di Indonesia lebih hemat biaya, pengusaha alat berat pun tidak perlu repot-repot pergi ke negara lain. Mereka bisa langsung membeli alat berat di Indonesia. Saya pikir ini adalah langkah awal untuk menarik investor alat berat.

Setelah lima tahun berdiri, perusahaan berganti nama menjadi PT Jimac dan lokasinya pindah ke Kemayoran, Jakarta. Saat itu, saya juga memutuskan untuk bekerja sama dengan Cobelco, produsen alat berat Jepang. Selai itu, kami menggandeng perusahaan rental Jepang. Pembagian porsi sahamnya, yaitu Cobelco 30 persen, Jimac 40 persen, dan perusahaan rental 30 persen.

Tapi karena ada masalah internal, mereka akhirnya mundur pada 2007 dan saya kembali memegang 100 persen saham. Nilai akusisinya sekitar Rp 10 miliar. Akhirnya semua saya ambil alih. Waktu itu perusahaannya masih kecil.

Pada 2011 atau saat tsunami Jepang terjadi, saya mulai meninggalkan bisnis alat berat bekas. Bencana tsunami di Jepang mengakibatkan harga alat berat bekas mulai mahal dan sulit dicari. Saat itulah, Sany Heavy Industries mendatangi saya dan mengajak bekerja sama. Sebelum deal kerja sama, saya melakukan survei ke pabrik Tiongkok. Akhirnya saya putuskan untuk memegang dealer-nya di Indonesia.

Anda langsung menerima tawaran tersebut?
Saat itu, saya tidak langsung menerima begitu saja. Saya melihat secara langsung ke pabrik alat berat Sany di Tiongkok. Saya mempelajari kemungkinannya jika saya masuk ke pasar alat berat di dalam negeri dan memasarkan produk tersebut di sini.

Apalagi masyarakat Indonesia menganggap kualitas produk-produk Tiongkok masih di bawah Jepang dan Eropa. Ternyata, persepsi masyarakat keliru. Produk alat-alat berat asal Tiongkok tidak seperti itu. Teknologi mereka mampu mengalahkan teknologi Eropa.

Apa yang membawa Anda sampai ke tahap ini?
Saya dari dulu tidak suka belajar. Ketika teman-teman saya pergi ke sekolah, saya justru sibuk berdagang. Saya bersekolah hanya sampai kelas empat SD di Medan, Sumatera Utara. Saya mulai bekerja sewaktu berumur 15 tahun. Saya terjun ke berbagai bidang usaha sebagai marketing, kemudian menjadi pemasok pasir glass dan beberapa bidang bisnis lainnya.

Pertama kali saya bekerja dengan teman di Jakarta sebagai marketing alat-alat kosmetik. Itu sekitar tahun 1972. Saya mengantar barang dengan menggunakan mobil pick up. Kemudian saya melanjutkan bekerja di pabrik roti hingga 1975. Setelah itu, saya bekerja di pasar pagi untuk menjual barang-barang kelontong.

Setelah mendapatkan ilmu dari menjual alat kosmetik dan kelontong, saya mencoba membuka bisnis bersama, dengan teman saya. Bisnisnya menjual barang-barang kelontong dan kosmetik. Tapi bisnisnya gagal karena muncul masalah dengan teman saya, dan akhirnya bangkrut.

Setelah gagal, saya pindah ke Bangka Belitung, bekerja di penambangan pasir. Setelah itu, saya kembali lagi ke Jakarta, ikut bekerja di perusahaan teman, menjadi supplier baju, sepatu, hingga seragam TNI/Polri.

Setelah itu, baru saya putuskan membuat usaha sendiri. Selanjutnya saya bergabung lagi dengan teman, membuka usaha penjualan alat berat bekas dengan cara mengikuti lelang penjualan besi tua di Jepang, Tiongkok, dan negara Asia lainnya.

Setelah usahanya semakin besar, teman saya justru ingin membuka pabrik besi bekas, tapi saya tidak mau. Akhirnya saya membuka usaha sendiri.

Apa tantangan menjalankan bisnis alat berat di Indonesia?
Banyak sekali tantangannya, apalagi bagi orang seperti saya yang tamat SD pun tidak. Tapi, dari dulu saya yakin, yang penting komunikasi dan pergaulan. Setiap hari, saya juga tak pernah absen membaca koran.

TV pun tidak boleh lepas, semua informasi dari politik dan ekonomi saya tonton karena saya ingin belajar. Itu kebiasaan saya sejak muda. Makanya banyak yang heran kenapa saya bisa menjalankan perusahaan seperti sekarang, padahal belajar manajemen saja, saya dulu tidak mau.

Prinsip Anda dalam menjalankan bisnis?
Dalam berbisnis, modal utama adalah kepercayaan dan etika. Karena itu, saya selalu menekankan tiga prinsip. Pertama, apa pun bisnis yang kita jalani, yang terpenting fokus. Sejak awal hingga sekarang, saya fokus dan menekuni bisnis alat berat, apalagi pasar alat berat di Indonesia masih sangat potensial.

Kedua, optimistis. Dalam situasi dan kondisi apa pun harus tetap optimistis. Saya sempat jatuh-bangun menghadapi krisis moneter pada 1998 sampai 2002, tapi saya optimistis bisa bangkit lagi.

Ketiga, menjaga kepercayaan. Menurut saya, menjaga kepercayaan merupakan modal utama bagi pengusaha. Tidak mungkin seorang pengusaha bisa berhasil tanpa berinteraksi dengan mitra bisnis. Agar dipercaya, ia harus jujur.

Kemudian dalam melakukan bisnis alat berat, terutama sebagai pemain baru, saya menjaga after service dan penjualan spare part 24 jam. Kami harus meyakinkan konsumen bahwa kami paling cepat dan melayani 24 jam. Kepercayaan inilah yang kami pupuk dari awal, sekarang, hingga masa-masa mendatang.

Rencana Anda berikutnya?
Dalam tiga tahun, saya mampu mencetak rekor memasarkan sekitar 1.000 unit alat berat Sany di Indonesia. Jenisnya bermacam-macam, seperti concrete machinery, road machinery, port machinery, drilling rig, dan excavator. Percepatan populasi alat berat Sany di Indonesia menempati urutan kedua dealer tercepat dari 90 negara perwakilan Sany Group di seluruh dunia.

Sekarang saya punya mimpi membangun pabrik alat berat terbesar di Indonesia di bawah naungan Jimac dan Sany Group. Saya baru bisa dikatakan sukses kalau sudah bisa membangun pabrik alat berat di Indonesia.

Saya berharap support dan dukungan semua pihak. Semoga pembangunan pabrik ini segera terealisasi. Rencananya, pendirian pabrik akan dilakukan di kawasan industri Karawang, Jawa Barat dengan nilai investasi sekitar US$ 200 juta.

Pendirian pabrik ini bukan cuma kebanggaan bagi saya, tetapi juga menjadikan Indonesia sebagai satu-satunya negara di kawasan Asia Tenggara yang memiliki pabrik alat berat asal Tiongkok.

Tantangan bisnis Anda ke depan?
Saya rasa, infrastruktur masih menjadi tantangan. Misalnya ketika kami harus mencapai daerah luar Jawa, itu kan susah. Kondisi jalannya belum bagus sehingga agak terhambat. Saya berharap, pemerintahan baru nanti mampu memprioritaskan program pembangunan infrastruktur, sehingga infrastruktur di daerah bisa berkembang lebih baik lagi.

Selain itu, kami berharap pemerintah mampu memberikan jaminan keamanan serta kepastian hukum dan regulasi yang jelas bagi investor asing yang menanamkan modalnya di Indonesia. Apalagi negara seperti Tiongkok sangat menaruh harapan besar terhadap Indonesia. Sebab, dibandingkan negara-negara lain di ASEAN, pasar Indonesia adalah yang terbesar.

Bagaimana gaya kepemimpinan Anda?
Yang saya terapkan kapada karyawan adalah kejujuran dan profesionalitas. Untuk mengembangkan sebuah perusahaan butuh profesionalitas. Saya rela membayar mahal untuk tenaga ahli di bidangnya. Tapi di atas itu semua, yang terpenting adalah kejujuran.

Kalau dia hebat tapi tidak jujur, kan percuma. Kejujuran itu sebuah modal. Kami juga terbuka terhadap masukan, kami tidak tertutup. Mentang-mentang cuma karyawan tidak boleh memberikan masukan. Tidak begitu. Gaya tersebut saya terapkan juga ke anak-anak saya.

Filosofi hidup Anda?
Yang penting pantang menyerah dan jujur. Kalau menyerah ketika krisis moneter 1998, saya tidak akan menjadi seperti sekarang. Tapi Tuhan juga baik kepada saya. Ketika hancur, saya masih diberi kesempatan untuk menjalankan usaha. Bahkan, ketika orang lain bangkrut, saya justru mendapatkan partner untuk menghidupkan kembali bisnis saya.

Kemudian kejujuran, menurut saya, itu adalah modal untuk semuanya. Menjalin kerja sama dengan investor harus ada rasa percaya. Kepercayaan hanya bisa diperoleh dengan kejujuran.

Impian Anda yang belum tercapai?
Hanya satu, yaitu membangun pabrik. Sejak masuk ke industri alat berat, saya bercita-cita ingin membangun pabrik sendiri. Mudah-mudahan sebentar lagi, karena target yang ditetapkan Sany hampir tercapai.

Kapan Anda melakukan regenerasi?
Saat ini saya mulai melakukan regenerasi, dimulai dari anak saya yang nomor satu. Ia sudah memegang bagian finance dan meng-handle acara-acara.

This entry passed through the Full-Text RSS service - if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers.

Diposkan oleh iwan di 01.28  

0 komentar:

Poskan Komentar