“Jasa pengiriman hewan peliharaan, bisnis yang berpeluang”

Senin, 21 Juli 2014

“Jasa pengiriman hewan peliharaan, bisnis yang berpeluang”


Jasa pengiriman hewan peliharaan, bisnis yang berpeluang

Posted: 20 Jul 2014 11:03 PM PDT

Jakarta ( ANTARANews ) - Semakin banyak masyarakat yang memiliki hewan peliharaan membuat hadirnya  bisnis jasa pengiriman binatang kesayangan.

Adalah Themmy Tjahjono, pemilik jasa pengiriman hewan peliharaan Animal Express (Anex) yang mengaku omzetnya tiap bulan hingga Rp100 juta. 

"Omzet seperti itu karena makin banyak masyarakat yang hobi memelihara hewan ras," kata Themmy (27) yang ditemui di tempat usahanya di kawasan Muara Karang, Jakarta Utara, baru-baru ini.

Themmy mengatakan, rata-rata setiap bulan pihaknya melayani hingga 30 kali pengiriman domestik dan sekitar 20 kali pengiriman internasional.

Biaya pengiriman dalam negeri tergantung besaran ukuran hewan dan jarak yang ditempuh, rata-rata sekitar Rp500 ribu sampai Rp2 juta sekali kirim.

Mengenai biaya pengiriman ke luar negeri, ongkosnya berkisar antara Rp5 juta dan Rp10 juta, tergantung  negara tujuan dan birokrasi negara tersebut mengenai pengiriman hewan.

"Biaya  itu sebenarnya bukan mahal pada alat transportasinya, tetapi pengurusan surat, vaksinasi, balai karantina, dan pengamanan hewan termasuk kandangnya," kata Themmy.

Harga akan bertambah jika pemilik hewan memilih paket eksklusif untuk pengiriman hewan kesayagannya.

"Kalau pemilik hewan ikut dalam perjalanan, biaya transportasi dia yang tanggung dan kami hanya membereskan surat-surat administrasi," katanya.

pet hotel
Kantor Animal Express berupa ruko dengan tiga tingkat berwarna tembok putih terang, lantai satu melayani paket pengiriman, lantai dua melayani aksesoris hewan dan lantai tiga digunakan untuk pet hotel serta salon hewan.

Bisnis tersebut  berawal tahun 1980 didasari orang tua Themmy yang hobi hewan peliharaan.

Usaha jasa pengiriman hewan peliharaan tersebut dirintis oleh ayahnya dan kini Themmy sebagai pengelola.

"Pekerjaan sudah dimulai ayah saya ketika saya belum lahir, tetapi ketika diserahkan kepada saya, baru usaha ini saya tekuni secara profesional dan berbadan hukum," tutur Themmy sembari membenahi beberapa dokumen yang tertumpuk di atas mejanya.

Ayahnya juga menekuni bidang pengamat hewan ras sehingga sering menjadi juri perlombaan sekaligus seorang "breeder".

"Binatang anjing dan kucing ras dari luar negeri bisa didapat melalui pengiriman jasa ini, kecuali jenis reptil kami belum berani karena sulitnya perizinan," kata Themmy.

Ketika ditanya mengenai tantangan menjalankan bisnis tersebut, dia mengatakan pernah hewan yang dikirim ternyata mati dalam perjalanan.

"Kami pernah mendapat komplain dari konsumen karena hewan yang dikirim ternyata sampai dalam keadaan mati, kami bertanggung jawab meskipun itu bukan kelalaian dari kami," katanya.

Hewan tersebut adalah anjing yang dikirim dari Jerman ke Indonesia melalui pesawat. Setiba di Indonesia, anjing itu sudah mati.

Kejadian tersebut segera ditelusuri hingga sampai pada kesimpulan anjing tersebut mati dalam perjalanan atau ketika pesawat transit.

Animal Express sebelum menerima jasa pengiriman, meminta kesepakatan dari calon klien bahwa kerusakan atau hilangnya isi paket yang bukan kecerobohan agen tidak dapat dimintai pertanggungjawaban.

"Di sinilah susahnya mengelola bisnis ini. Belum ada asuransi di Indonesia yang mau menanggung tentang animal welfare (kesejahteraan satwa), sehingga sulit untuk membuktikan atau mempertanggungjawabkan klaim dari konsumen jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan," tutur Themmy.

"Saya juga pencinta binatang, saya mengerti bahwa kehilangan hewan kesayangan tidak bisa diganti dengan biaya berapapun, tapi setiap bisnis tetap memiliki risiko, apalagi pengiriman benda hidup," jelas dia.

Pihaknya ketika itu bertanggung jawab dengan cara memberikan ganti rugi beberapa kali biaya perjalanan.

Animal Express bukan satu-satunya yang menjalankan bisnis pengiriman hewan kesayangan.

Usaha serupa juga ditekuni Mr.Pettrans di Bandung, Jawa Barat.

"Bisnis ini memang sedang ramai, selalu banyak muncul pemain baru, tinggal bagaimana menjalankan pelayanan masing-masing," kata Reyza, pemilik Mr.Pettrans.

Ia menuturkan hewan yang populer untuk dikirimkan adalah kucing dan anjing ras.

Menurut Reyza, konsumen biasanya memilih kargo khusus hewan karena lebih aman dan sesuai dengan keinginan pemilik.

Kargo campuran dengan barang menurut Reyza riskan dengan benturan dan tidak aman.

Omzet yang dicapai oleh Mr.Pettrans setiap bulan mencapai puluhan juta rupiah dengan rincian kisaran harga antara Rp250 ribu sampai Rp1,8 juta, semuanya tergantung jarak dan permintaan konsumen.

Mr Pettrans menerapkan biaya pengiriman Bandung - Jakarta Rp300 ribu/ untuk satu kucing atau anjing menggunakan mobil pribadi, Bandung- Solo Rp400 ribu, Bandung-kota Kalimantan Rp1,5 juta ditambah  petcargo dan pengurusan surat izin.

Jika lama perjalanan  24 jam, hewan akan diberi makan sebanyak dua kali.

Perbandingannya, jika pengiriman menggunakan kereta melalui jasa cargo barang biasa, kategori binatang untuk Jakarta-Solo biayanya mencapai Rp500 ribu/ekor termasuk kandang dan pengantaran.

Jasa pengiriman hewan sering digunakan oleh Dhonny Rahardian, breeder asal Semarang.

Menurut dia,  jasa pengiriman hewan lebih menghemat waktu dan biaya pengiriman.

"Saya sering menggunakan jasa pengiriman barang untuk mengantarkan pesanan seperti landak mini, tarantula dan lain-lain, lebih efektif dibanding ditangani sendiri," katanya.

Dhonny juga mengatakan jasa pengiriman hewan membuat dia tidak perlu repot mengurus perizinan hewan.

prosedur pengiriman
Prosedur pengiriman hewan ke luar negeri tidak semudah proses pengiriman di dalam negeri.

Setiap negara mempunyai aturan sendiri untuk menerima kedatangan hewan dari luar negaranya.

Ada dua jenis negara penerima, yaitu kategori bebas rabies dan kategori waspada rabies.

Indonesia masih masuk dalam kategori waspada rabies seingga kadang sulit mendapatkan izin dari negara tujuan pengiriman.

"Terkadang hewan harus ditahan selama tiga bulan di balai karantina negara setempat, untuk menyelesaikan prosedur," tutur Themmy Tjahjono.

Dia mengatakan, negara bebas rabies umumnya di Eropa, sehingga harus ada sertifikat vaksinasi, legalitas, dari Deptan dan Dinas Peternakan, bahkan ada visa khusus hewan yang membatasi waktu tinggal hewan.

Themmy mengemukakan pelanggannya kebanyakan adalah pengusaha, mahasiswa yang belajar di luar negeri, dan komunitas pecinta hewan.

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers.

Diposkan oleh iwan di 01.15  

0 komentar:

Poskan Komentar