“Kenapa Entrepreneur Harus Merencanakan untuk Gagal”

Rabu, 04 Juni 2014

“Kenapa Entrepreneur Harus Merencanakan untuk Gagal”


Kenapa Entrepreneur Harus Merencanakan untuk Gagal

Posted: 04 Jun 2014 12:00 AM PDT

Meski entrepreneur wajib bermimpi besar, namun tidak kalah pentingnya lagi adalah mempersiapkan diri untuk gagal. Karena, tidak semua bisnis akan berhasil. Karena, sudah jadi rahasia umum bahwa 90 persen pengusaha berisiko gagal dalam tiga tahun pertama. Dengan mengakui bahwa Anda beresiko gagal, maka secara intelektual, emosional, dan finansial, Anda akan siap meskipun nanti bisnis Anda tidak berhasil. Toh, selama Anda masih bernyawa. Berikut adalah sejumlah argumen kenapa entrepreneur harus merencanakan untuk gagal.

Bukannya paranoid, melainkan bijaksana. Ada perbedaan besar antara mempersiapkan diri untuk gagal dengan berpikir bahwa Anda akan gagal. Anda berfikir praktis dan bijaksana tentang semua kemungkinan yang bisa saja terjadi. Hal ini bahkan bisa saja jadi motivasi Anda untuk maju.

Exit strategy. Menjalankan bisnis dapat menjadi sebuah pengalaman yang sangat emosional. Perusahaan Anda seolah "bayi" yang menuntut banyak perhatian dan passion Anda. Bahkan dalam beberapa kasus sampai-sampai membuat Anda melupakan bayi Anda yang sebenarnya. Merencanaan untuk gagal bisa jadi sebuah exit strategy tahap pertama. Yakni menghindari kedekatan emosional dengan bisnis Anda.

bisnis gagal Kenapa Entrepreneur Harus Merencanakan untuk Gagal studentpreneur entrepreneur startupKenapa Entrepreneur Harus Merencanakan untuk Gagal [Studentpreneur]

Membantu Anda bersikap lebih obyektif. Merencanakan yang terburuk akan memberikan perspektif lain bagi Anda seputar bagaimana memandang bisnis Anda. Anda dapat melihat dari sudut pandang yang lebih obyektif, misalnya investor atau pelanggan. Hal ini akan membantu Anda menghasilkan ide-ide bisnis lain yang jauh lebih baik dan Anda lewatkan sebelumnya karena Anda terlalu bergantung pada bisnis Anda.

Stay alert. Berpikir tentang potensi kegagalan akan membuat Anda senantiasa terjaga dan memungkinkan Anda untuk mengidentifikasi kesalahan Anda, sehingga Anda dapat memperbaikinya lebih cepat.

Membuat Anda berpikir ke depan. Bagaimana jika Anda kehilangan salah satu klien terbesar Anda? Bagaimana hal ini akan berdampak bahwa arus kas dan moral karyawan Anda? Sulit untuk membayangkan skenario ini ketika Anda tidak merencanakan untuk gagal. Dalam beberapa kasus, merencanakan untuk gagal bahkan bisa membantu Anda mengantisipasi hal ini agar tidak terjadi.

 

Anda senantiasa berusaha lebih keras. Karena seringkali kemenangan kecil membuat seseorang berhenti.

Membuat Anda tidak berpuas diri. Ingat bahwa butuh waktu bertahun-tahun untuk membangun sebuah perusahaan, dan satu kesalahan kecil bisa menghancurkannya. Maka, mengakui adanya kemungkinan untuk gagal akan mencegah Anda berpuas diri. Untuk menjalankan bisnis, sangat penting bagi Anda untuk tetap fokus dan lapar.

Rasional. Anda perlu mengesampingkan ego dan emosi ketika menutup sebuah usaha. Apalagi jika nyatanya bisnis Anda tidak menghasilkan revenue.

 

Anda lebih mudah move on. Merencanakan untuk gagal akan membuat pukulan terasa lebih lunak. Begitu satu bisnis tidak bekerja, Anda bisa memulai bisnis lain dengan cepat. Ada seribu ide yang bisa Anda wujudkan selama Anda masih bernyawa.

Nah Sobat Studentpreneur, bagaimana menurut Anda? Anda bisa mendapatkan informasi bisnis anak muda kreatif melalui Facebook atau Twitter Studentpreneur. [Photo Credit: Sjoerd]

Artikel Bisnis Terpopuler Hari Ini:

Pendiri Facebook Sumbangkan 1,4 Trilliun Rupiah Untuk Pendidikan

Cara Entrepreneur Mendapatkan Dukungan Keluarga

Guru Bahasa Inggris Menjadi Pahlawan Ekonomi China

Taufik Aditama

Wartawan senior Studentpreneur yang ingin berkeliling dunia dan membuat Indonesia lebih baik

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.

Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers.

Diposkan oleh iwan di 01.30  

0 komentar:

Poskan Komentar