“Siapkan Basis Pengembangan Regional Semen Gresik - BeritaSatu”

Kamis, 10 April 2014

“Siapkan Basis Pengembangan Regional Semen Gresik - BeritaSatu”


Siapkan Basis Pengembangan Regional Semen Gresik - BeritaSatu

Posted: 10 Apr 2014 12:12 AM PDT

Dipercaya memimpin perusahaan semen di Vietnam, dengan dua pabrik di utara dan selatan, tentu bukan pekerjaan mudah. Perbedaan budaya, bahasa, dan regulasi jadi tantangan utama, selain target memperbaiki kinerja perusahaan. Inilah satu contoh profesional lokal yang berhasil berkiprah di regional.

Langkah awal PT Semen Indonesia Tbk (SMIG) menjadi pemain regional diwujudkan dengan mengakuisisi Thang Long Cement Joint Stock Company (TLCC), Vietnam, pada Desember 2012. Saat diakusisi SMIG, TLCC berkinerja kurang baik, tetapi punya potensi bertumbuh.

Satu tahun berlalu setelah akuisisi itu, TLCC mulai memberikan kontribusi positif bagi kemajuan SMIG.Tentu bukan perjalanan mudah membenahi perusahaan yang berbeda budaya, bahasa dan regulasi. Siapakah sosok yang mengemban tugas besar ini?

Dialah Johan Samudra, general director TLCC yang ditunjuk memimpin perusahaan semen berkapasitas 2,3 juta ton per tahun itu sejak 2 April 2013 atau tepat setahun lalu. Saat ini, Johan Samudra merangkap jabatan sebagai direktur pengembangan usaha dan strategi bisnis PT Semen Indonesia Tbk.

Mengutip pernyataan Dirut SMIG, Dwi Soetjipto, setelah menguasai segitiga wilayah Indonesia, yakni Semen Gresik di Pulau Jawa, Semen Padang di Sumatera, dan Semen Tonasa di Makasar, SMIG sebagai grup usaha berusaha melakukan ekspansi ke kawasan regional.

"Pengambilalihan perusahaan semen di kawasan ASEAN bukan hanya untuk memperluas pasar, tetapi untuk mengamankan posisi Semen Indonesia di Indonesia. Bila kita tidak punya kekuatan kita akan selalu terganggu dengan dinamika persaingan, yakni munculnya pemain asing di pasar domestik," ungkap Dwi Soetjipto ketika mengunjungi TLCC, Vietnam, saat merayakan satu tahun bergabungnya TLCC.

Setelah diakuisisi Semen Indonesia, TLCC berhasil membukukan kinerja yang lebih baik, meningkatnya EBITDA dari sebesar 14,27 persen sebelum akuisisi (November 2012) menjadi sekitar 22,3 persen setelah akuisisi (November 2013). Meningkatnya laba usaha per ton sebesar 45 persen, yakni dari VND 12.533 sebelum akuisisi menjadi VND 18.555 setelah diakuisisi.

Saat ini, TLCC menurut Johan Samudra, tengah melakukan penyempurnaan struktur organisasi perusahaan agar lebih efektif dan efisien berpedoman pada struktur organisasi yang ada di lingkungan SMIG dan disesuaikan dengan kondisi lokal Vietnam.

Bagaimana kisahnya mengelola perusahaan swasta di negeri bunga mawar ini? Berikut wawancara dengan insinyur teknik mesin lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) yang mengawali karier di Semen Padang.

Bisa dijabarkan kemajuan TLCC setelah setahun Anda pimpin?
Alhamdulillah perusahaan menunjukan kinerja yang membaik, produksi klinker (bahan utama semen, Red) mencapai 1,817 juta ton sekitar 101 persen kapasitas desain. Pencapaian ini 10 persen lebih tinggi dari produksi tahun 2012, dan menjadi produksi tertinggi yang pernah dicapai sejak pabrik ini mulai beroperasi tahun 2009.

Tiga bulan terakhir perusahaan membukukan laba sebelum pajak yang positif, EBITDA sekitar Rp 208 miliar, atau 31 persen lebih tinggi dari pencapaian 2012. Sementara EBITDA margin tercapai 19,7 persen atau 5,57 persen lebih tinggi dari pencapaian 2012.

Saat ini kami sedang berusaha mengubah budaya kerja di TLCC yang tadinya perusahaan swasta yang lebih mengutamakan profit, ke arah yang lebih harmonis, seperti budaya kerja di perusahaan induk SMIG. Sedikit demi sedikit rasa memiliki dan loyalitas kepada perusahaan pada diri karyawan mulai tumbuh, kebanggaan sebagai karyawan TLCC mulai tampak. Ini tercermin dari pelayanan yang semakin baik yang diperlihatkan karyawan terhadap tugas-tugas yang dibebankan kepada mereka. Tadinya setiap memasuki jam pulang kerja, kantor langsung kosong, sekarang masih banyak yang serius menyelesaikan tugas-tugasnya.


Ketika Anda diminta memimpin TLCC apa yang terutama diharapkan induk usaha SMIG dalam rangka membenahi perusahaan?
Perusahaan induk meminta agar perusahaan harus segera direstrukturisasi dalam seluruh aspek bisnisnya, sehingga dapat mengahasilkan laba, menguasai manajemen bisnis di Vietnam dan siap menjadi basis pengembangan regional SMIG. Untuk dapat merealisasikan permintaan perusahaan induk tersebut, kami melakukan konsolidasi seluruh elemen bisnis perusahaan di bawah satu komando. Melakukan optimalisasi kemampuan produksi dan memaksimalkan utilisasi seluruh sistem dan peralatan yang ada, menurunkan biaya-biaya, membenahi manjemen pemasaran untuk memberikan hasil yang maksimal, restrukturisasi pinjaman yang ada, serta penerapan manajemen kas yang ketat.

Bagaimana menjalin komunikasi dengan karyawan perusahaan dan regulator serta masyarakat setempat. Apakah ada kesulitan?
Sejak awal datang ke Vietnam, kami langsung berupaya membina hubungan baik dengan local authority dan penduduk setempat dan memulai program CSR (corporate social responsibility). Yang paling berkesan adalah cara berkomunikasi di Vietnam. Sebagian besar karyawan tidak mampu berbahasa Inggris, sementara kami tidak bisa berbahasa Vietnam. Padahal kontrak dan perikatan bisnis ditulis dalam bahasa Vietnam, dan pemerintah setempat serta masyarakat di lingkungan sekitar hanya berkomunikasi dengan bahasa Vietnam. Bahasa Vietnam mungkin bahasa yang paling sulit dipelajari karena bahasanya banyak mengunakan nada yang berbeda yang akan memberikan arti yang berbeda meskipun tulisannya sama.

Ditambah lagi, karakter masyarakat Vietnam lebih pendiam dan agak tertutup pada pendatang. Ini menyebabkan pada tahap awal komunikasi agak lambat. Tapi bagaimanapun juga, masalah komunikasi ini harus dapat dipecahkan dengan segera. Kami kemudian melakukan perekrutan tenaga interpreter bahasa Vietnam yang akan membantu dalam berkomunikasi. Karyawan TLCC umumnya tamatan universitas, sehingga sedikitnya pernah belajar bahasa Inggris, akan tetapi karena tidak pernah menggunakanya mereka merasa sungkan dan kurang berani berkomunikasi dengan kami.

Dengan pendekatan "keterbukaan yang ramah" dan "komunikasi yang intens" dalam setiap pertemuan dan diskusi dibantu oleh para interpreter, karyawan mulai berani berkomunikasi dalam bahasa Inggris yang seadanya, tapi dapat saling mengerti. Komunikasi pun menjadi lancar. Demikian juga dengan masyarakat lingkungan dan mitra kerja, secara bertahap komunikasi menjadi semakin cepat dan mudah. Karyawan mulai familiar dengan cara kerja kami dan mulai terbuka membicarakan segala yang berhubungan dengan kegiatan-kegiatan di perusahaan. Saat ini setiap saya memasuki ruangan kantor, para karyawan akan menyapa dengan ramah , "Chau chao Bac", kira-kira artinya, "Hai Pak apa kabar".

Apa yang terutama jadi prioritas pembenahan di TLCC saat ini?
Masih banyak yang harus diselesaikan di TLCC, di antaranya restrukturisasi utang-utang perusahaan yang masih berproses, yang diharapkan selesai kuartal pertama tahun ini. Maksimalisasi kemampuan produksi akan tetap diupayakan, kami berkeyakinan pabrik akan mampu berproduksi 10% di atas kapasitas desain.

Beban pokok penjualan dan beban usaha akan diusahakan untuk diturunkan sampai ke tingkat yang paling kompetitif. Restrukturisasi organisasi masih berlangsung, dalam waktu dekat kami akan menerapkan company regulation yang baru yang lebih menantang, tapi harmonis. Sistem remunerasi akan dibuat lebih adil dan layak, berpedoman pada yang ada di SMIG dengan penyesuaian kondisi lokal Vietnam dan kemampuan perusahaan. Hubungan baik dengan lingkungan dan pemeritahan lokal masih perlu ditingkatkan dan program CSR perlu dilaksanakan secara berkesinambungan.

----
Pengalaman Johan Samudra menjadi bukti nyata bahwa begitu mendalamnya konflik sosial yang terpendam akibat perusahaan yang tidak bersahabat dengan masyarakat sekitar. Setelah diakuisisi oleh SMIG, untuk pertama kalinya Thang Long Cement memberikan bantuan pembangunan jalan perdesaan bagi warga sekitar pabrik berupa 20 ton semen. Manajemen terlibat langsung dalam pemberian bantuan tersebut. Kegiatan itu belum pernah dilakukan sejak TLCC berdiri.

Jika dirupiahkan, maka bantuan tersebut terasa kecil dibandingkan dengan program CSR yang dilakukan oleh operating company di SMIG. Namun, dampaknya ternyata sangat luar biasa karena masyarakat sekitar perusahaan memberikan apresiasi bahkan mendukung kegiatan perusahaan. Dukungan dan apresiasi masyarakat sekitar itu tentu sangat penting untuk menciptakan harmonisasi.

Manajemen TLCC sangat menyadari pendekatan melalui program CSR ini sangat efektif untuk meredam ketidakpuasan masyarakat akan keberadaan pabrik di sekitar tempat tinggal mereka. Melihat efektifnya pendekatan ini, manajemen Thang Long Cement berkomitmen untuk berjuang menyediakan dana CSR sekurang-kurangnya Rp 500 juta pada tahun 2014.

Sasaran utama tahun ini adalah membukukan laba sebelum pajak yang positif , kemudian menempatkan produk TLCC menjadi price leader di pasar dalam negeri. Hal ini akan dapat dicapai karena kualitas, diversifikasi produk, dan kualitas layanan, dan nilai kompetitif untuk pasar ekspor karena tersedianya infrastruktur memadai .

Bagaimana dengan kualitas SDM yang ada di TLCC?
Dalam penanganan proses bisnis sebelumnya, TLCC banyak melakukan secara manual, ini yang sedang diubah agar menjadi terintegrasi menggunakan sistem informasi yang akan membantu mempercepat proses pelaporan keuangan dan evaluasi kinerja usaha. Kegiatan ini sudah berlangsung sejak Juli 2013, akan tetapi masih perlu penyempurnaan dan pelatihan kepada karyawan di level eksekusi.

Secara umum kami perlu membenahi sumber daya manusia (SDM), karena berdasarkan tes kemampuan personel yang pernah kami lakukan bersama konsultan PWC di awal 2012, karyawan yang tergolong kompeten memenuhi kebutuhan perusahaan tidak sampai 20 persen. Ha ini mungkin disebabkan proses perekrutan awal kurang ketat, karena perusahaan dimiliki oleh pribadi. Saat ini kami sedang berusaha keras untuk melakukan peningkatan kemampuan personel, di masing-masing direktorat dan mengirim sejumlah personel ke SMIG untuk memperoleh pelatihan.

Apakah ada resistensi dari manajemen dan karyawan saat Anda masuk memimpin TLCC?
Ketika saya masuk, di bagian utara, ada kepala seksi yang sangat "berkuasa" dan menganggap cabang pemasarannya seperti "kerajaan sendiri". Dia sesuka-sukanya menentukan harga jual dan menetapkan biaya-biaya termasuk membayar upah karyawan di bawah kepemimpinannya. Kebetulan dia orang yang sejak awal ikut membangun perusahaan dan ditunjuk pemegang saham karena kedekatan personal, sehingga cabang itu seperti punya dia sendiri, dia membuat organisasi sedemikian rupa, dengan orang-orang yang loyal, layaknya "kopassus".

Dulu tidak ada yang berani pada orang ini. Dia tidak mau tunduk aturan kantor pusat di Hanoi. Hasilnya. kinerja cabang ini berantakan, utangnya tercatat sampai Rp 80 miliar. Ketika kami kemudian menunjuk direktur pemasaran (Pudjo Suseno) yang bertanggung jawab pada seluruh pemasaran perusahaan baik di selatan maupun utara, kami lantas menemui dia dan memberitahu soal restrukturisasi yang terjadi.

Secara teoretis sebetulnya dia cukup pintar karena selain bekerja di perusahaan, dia menjadi dosen di salah satu perguruan tinggi. Saya minta dia meninggalkan posisinya karena telah diambil alih direktur pemasaran. Kami juga meminta dia membereskan kontrak-kontrak yang menyebabkan cabang ini memiliki banyak utang.

Sebagai gantinya, saya menawarkan posisi sebagai asisten CEO. Tetapi ia kemudian minta maaf dan memilih meninggalkan perusahaan dengan alasan keluarga. Selesai dengan kepalanya, kami masih harus berurusan dengan anak buahnya. Kami bersikap tegas, mereka ditanya satu per satu. Mau terus kerja di sini dan mengikuti aturan perusahaan atau tidak? Ada yang kemudian diberhentikan, dan ada yang memilih mengundurkan diri. Prosesnya tidak mudah.

Bagaimana perkembangan industri semen di Vietnam?
Iklim bisnis semen di Indonesia sangat berbeda dengan Vietnam. Indonesia saat ini masih kekurangan pasokan. Berapa saja produksi semen akan terjual di pasar karena kebutuhan semen di atas kemampuan pasok. Harga jual semen di indonesia lebih tinggi (sekitar US$ 100/ton, sedangkan di Vietnam hanya sekitar US$ 50/ton), sehingga EBITDA margin industri semen di Indonesia sekitar 30-40 persen, sedangkan di Vietnam rata-rata sekitar 12-14 persen saja. Bisnis semen di Indonesia saat ini sangat menguntungkan berbeda dengan Vietnam yang harus berusaha keras untuk dapat untung sedikit.

Bagaimana dengan target kinerja tahun ini?
Tahun 2014 ditargetkan produksi klinker sebesar 1.878.000 ton (104 persen dari 2013) , produksi semen sebesar 1.453.200 ton (111 persen dari tahun 2013). Volume penjualan sebesar 2.416.000 ton ( 106 persen dari 2013). Tahun ini kami menargetkan ekspor semen sebesar 259.000 ton (141 persen dari 2013 ) karena ekspor semen lebih menguntungkan secara keseluruhan.

EBITDA kami targetkan sebesar VND 417 milar (103 persen tahun 2013) dan laba sebelum pajak VND 23,11 miliar (tahun 2013 masih VND 164,2 miliar). Karena industri semen di Vietnam mengalami kelebihan pasokan, pasar dalam negeri hanya mampu menyerap 60 persen produksi agar dapat survive di kondisi bisnis seperti ini kami harus berbeda dari industri yang ada.

Untuk pasar domestik kami harus meningkatkan brand image melalui kualitas produk dan pelayanan. Sedangkan untuk pasar ekspor kami harus mampu sekompetitif mungkin dengan memaksimalisasi kemampuan distribusi dan menurunkan biaya-biaya.

Apa target pengembangan TLCC ke depan?
Dalam 10 tahun ke depan diharapkan TLCC menjadi pusat pengembangan regional SMIG dari utara. Pada saat itu, kapasitas TLCC telah berkembang minimum tiga kali lebih besar dari sekarang, sehingga cukup tangguh bersaing di pasar. TLCC juga ditargetkan telah mempunyai infrastruktur distribusi yang sangat memadai dan kompetitif untuk men-support pasar domestik dan ekspor.

Kami mempunyai trading company sendiri yang akan meningkatkan volume penjualan lebih tinggi dari kapasitas produksi, sehingga akan meningkatkan revenue dan daya saing. Pada waktu yang sama, SDM TLCC telah meningkat kelasnya sekurang-kurangnya setaraf dengan SDM SMIG.

Personel-personel TLCC telah siap menjadi tim inti dalam pengembangan regional SMIG karena kemampuan adaptasi dengan lingkungan yang lebih baik dan lebih tangguh dalam menghadapi tantangan lingkungan.

Apa yang terutama perlu dijaga manajemen TLCC ke depan agar target jangka panjang yang ditetapkan tersebut bisa tercapai?
Ada beberapa hal yang menurut saya perlu dilakukan oleh penerus kepemimpinan di TLCC nanti, di antaranya melanjutkan dan menyempurnakan eksekusi rencana jangka panjang (RJP) TLCC yang telah dirumuskan disesuaikan dengan dinamika bisnis yang terjadi. Tetap menjaga hubungan baik dengan seluruh stakeholder perusahaan dan selalu meningkatkan daya saing perusahaan baik dari sisi bsinis maupun SDM.

Apa perasaan Anda saat ditugaskan memimpin TLCC?
Melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya adalah kebahagiaan yang tak ternilai buat saya. Bagi saya berkesempatan untuk dapat menyumbangkan pemikiran dan pengalaman yang telah terakumulasi selama 33 tahun di SMIG kepada SMIG atau yang memerlukan sudah merupakan kesuksesan

----
Setelah menamatkan pendidikan dari teknik mesin, ITB, Bandung, Johan Samudera bergabung dengan PT Semen Padang, di tanah kelahirannya Sumatera Barat. Ayah tiga orang anak ini meniti karier dari bawah, hingga menduduki jabatan senior manager sebagai Kadep Rancang Bangun dan Rekayasa.

Ia kemudian menambah ilmu manajemen dengan mengambil spesialisasi corporate finance dan meraih gelar magister manajemen dari Universitas Andalas. Kemampuan teknik dan manjemen ikut mengantarkannya ke posisi direktur Litbang PT Semen Padang.

Johan kemudian harus meninggalkan jabatan direktur saat diminta bertugas ke kantor pusat Semen Gresik, bergabung dalam Office of The CEO (OOTC), atau staf ahli direksi yang berisi orang-orang pilihan dari anak-anak perusahaan.

Pada 2010, dia menjadi orang pertama yang dipercaya menjadi Kadep Capital dan Expeditur (Capex). Departemen ini merupakan kepanjangan tangan dari perseroan untuk melihat sisi bisnis dari sebuah usaha secara lebih mendalam. Pada posisi ini Johan harus berkeliling ke semua anak usaha, Semen Padang, Semen Tonasa, termasuk Semen Gresik di bawah Semen Indonesia Grup. Ketika SMIG mengakuisisi TLCC, nama Johan Samudera yang kemudian dipilih untuk mengemban tugas ini.

Kegiatan Anda di Vietnam selain memimpin perusahaan?
Ikut aktif dalam kegiatan-kegiatan masyarakat Indonesia di Vietnam melalui Kedubes RI di Hanoi. Saat ini bersama  kawan-kawan dari Kedubes RI tengah mengupayakan memperkenalkan masakan Indonesia di Vietnam melalui pendirian Restoran Indonesia di Hanoi, karena saat ini belum ada sama sekali.

Bagaimana perasaan Anda jauh dari keluarga?
Jauh dari keluarga merupakan suatu pengorbanan kawan-kawan dalam melaksanakan tugas di Vietnam. Kadang-kadang ada kerinduan dan homesick datang, tetapi semua harus di-manage dengan baik. Untungnya SMIG memberikan kebijakan untuk dapat pulang mengunjungi keluarga secara reguler .

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers.

Diposkan oleh iwan di 01.44  

0 komentar:

Poskan Komentar