“Tiga Perusahaan Ditunjuk Jadi Distributor Bahan Bakar Minyak Tertentu”

Rabu, 01 Januari 2014

“Tiga Perusahaan Ditunjuk Jadi Distributor Bahan Bakar Minyak Tertentu”


Tiga Perusahaan Ditunjuk Jadi Distributor Bahan Bakar Minyak Tertentu

Posted: 01 Jan 2014 01:28 AM PST

Good Week for ...

Good Week for..
PT Bukit Asam Tbk (PTBA) mengalokasikan belanja modal 2014 sebesar Rp 3 triliun, naik 36% dibanding belanja modal tahun ini yang mencapai Rp 2,2 triliun.
Peningkatan belanja modal tahun depan dalam upaya melanjutkan ekspansi demi meraih pertumbuhan kinerja keuangan yang signifikan. Alokasi belanja modal ditujukan untuk proyek ekspansi yang semestinya digarap tahun ini ditunda lantaran kondisi industri batubara yang kurang bergairah.

PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) dan PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) membentuk perusahaan patungan dengan nama PT Krakatau Semen Indonesia yang akan membangun pabrik slag powder dengan nilai investasi Rp 440 miliar. Kerjasama patungan ini merupakan perwujudan dari sinergi antarperusahaan BUMN dalam mengembangkan bisnis. Pabrik slag powder ini dirancang mampu mengolah granulated blast furnance slag (GBFS) sebesar 750 ribu ton per tahun. Pembangunan pabrik ini direncanakan dimulai awal 2014 dan beroperasi pada 2016. Pendanaan pembangunan pabrik itu diperoleh dari 70% pinjaman dan 30% ekuitas. Pinjaman sebesar Rp 308 miliar berasal dari salah satu bank BUMN.

PT Asuransi Jasa Indonesia (Persero), perusahaan asuransi umum skala besar milik pemerintah telah melepas kepemilikan sahamnya di PT Asuransi Allianz Utama Indonesia sebanyak 22,5%. Menurut direksi, perseroan mendapatkan dana hampir Rp 100 miliar dari pelepasan saham tersebut. Proses pelepasan saham Jasindo di Allianz Utama sudah sesuai dengan target, yakni akhir 2013. Manajemen Jasindo mengaku tidak mengetahui investor yang membeli saham tersebut karena prosesnya diserahkan langsung kepada Allianz Utama.

PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN), perusahaan jasa telekomunikasi satelit, mengincar pendapatan usaha sebesar US$ 100 juta pada 2017. Perseroan akan mendapat pendapatan baru dari satelit baru, yakni satelit PSN VI, yang akan mengorbit di 146 derajat E pada medio 2016. Untuk pembangunan satelit ini, perseroan bekerja sama dengan Boeing Satellite Systems International asal Amerika Serikat. Satelit ini ditargetkan beroperasi pada awal 2017.

PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) menerbitkan Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset (KIK-EBA) seri A sebesar Rp 928 miliar. Menurut direksi, penerbitan KIK-EBA ini untuk meningkatkan likuiditas perseroan. Berdasarkan data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia, BTN menerbitkan KIK-EBA seri A1 dengan kupon 8,9% berjangka waktu sembilan tahun. Sementara, BTN memberikan kupon 9,5% untuk KIK-EBA seri A2 berjangka waktu sembilan tahun.

Bad Week for ...

Bad Week for..
PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL), emiten telekomunikasi menyiapkan belanja modal atau capital expenditure (capex sebesar) US$ 25 juta-US$ 30 juta pada tahun depan atau relatif sama dengan tahun ini. Dana ini digunakan untuk memperbaiki kinerja perseroan serta mengembangkan layanan data. Dana capex berasal dari kas internal. Hingga September 2013,  perseroan mencatat laba sebelum biaya bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) sekitar Rp 770 miliar. Di kuartal III 2013, perseroan mencatat penurunan pendapatan usaha sebesar 14,9% menjadi Rp 1,88 triliun dari kuartal III tahun lalu. Perseroan mencatat kenaikan rugi bersih 55,4% menjadi Rp 1,52 triliun.

PT Tempo Scan Pacific Tbk (TSPC), emiten farmasi dan produk kesehatan, per kuartal III 2013 merealisasikan dana belanja modal (capital expenditure) sebesar Rp 200 miliar. Realisasi tersebut setara 33% dari anggaran belanja modal tahun ini sebesar Rp 600 miliar (US$ 60 juta). Dana belanja modal hingga kuartal III 2013 digunakan untuk perluasan produksi dan perluasan cabang. Penambahan kapasitas di segmen tersebut seiring kenaikan permintaan produk Tempo Scan per tahunnya. Hingga akhir kuartal III tahun ini, permintaan produk pharma consumer health Tempo Scan naik 9%-10% dibanding periode yang sama tahun lalu.

PT Asuransi Mitra Maparya diestimasi mencatatkan laba bersih sepanjang tahun ini sebesar Rp 6 miliar, turun 70% dibandingkan tahun lalu yang mencapai Rp 20 miliar. Direksi perseroan menyatakan penurunan laba yang dialami asuransi Mitra disebabkan oleh meningkatnya beban klaim sepanjang 2013. Penyumbang klaim terbesar berasal dari asuransi kendaraan yang disebabkan oleh meningkatnya klaim dari produk Total Lost Only (TLO) asuransi kendaraan. Penyumbang klaim terbesar lainnya adalah dikarenanya adanya klaim banjir di Jakarta. Kedua faktor ini menjadi penyebab utama melonjaknya klaim.

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers.

Diposkan oleh iwan di 01.49  

0 komentar:

Poskan Komentar