“Dubes Nadjib: Australia Bisa Jadi `Dining Boom` - Tempo.co”

Minggu, 27 Oktober 2013

“Dubes Nadjib: Australia Bisa Jadi `Dining Boom` - Tempo.co”


Dubes Nadjib: Australia Bisa Jadi `Dining Boom` - Tempo.co

Posted: 27 Oct 2013 01:45 AM PDT

Berita Terkait

TEMPO.CO, Canberra - Dubes Republik Indonesia di Australia Nadjib Riphat Kesoema menilai Australia berpotensi jadi mitra utama negara-negara anggota Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) dalam memperkuat ketahanan pangan. Jika itu dilakukan, citra ekonomi Australia yang selama ini mengandalkan komoditas hasil tambang (mining boom) bisa jadi pensuplai bahan makanan bagi 600 juta masyarakat ASEAN, terutama Indonesia (dining boom).

Penegasan itu disampaikan Dubes Nadjib pada JCU Asian Market Forum yang diselenggarakan di kota Townsville, Queensland Utara pada 24 Oktober 2013 yang lalu.

Nadjib menyampaikan bahwa dalam beberapa tahun terakhir ini hubungan bilateral Indonesia - Australia semakin baik dan kuat, hal ini ditandai dengan rutinnya penyelenggaraan beberapa pertemuan tahunan yaitu the Annual Leaders Meeting, the 2 + 2 Meeting of Defense and Foreign Ministers serta Indonesia - Australia Dialog serta berbagai pertemuan para Menteri Ekonomi.

Dinyatakan pula bahwa masih banyak kalangan memandang sebelah mata hubungan ekonomi khususnya bidang perdagangan, investasi dan interaksi ekonomi antara Indonesia dan Australia.

Namun kunjungan resmi ke Jakarta dan kehadiran PM Tony Abbott pada KTT APEC di Bali telah menunjukkan adanya kesungguhan pemerintah Australia bahwa tahun-tahun mendatang akan dipenuhi dengan komitmen, komunikasi dan kebijakan yang saling mendukung diantara kedua belah pihak. "Saat ini adalah waktu yang tepat bagi pengusaha Australia untuk membangun hubungan erat dengan mitranya dari Indonesia sebagamana yang seharusnya dilakukan dua tetangga dekat," katanya.

Kedua negara juga telah banyak berupaya melibatkan perusahaan, kamar dagang, dan kelompok lobi perdagangan atau yang dikenal dengan "second track diplomacy"  demi kesejahteraan rakyat kedua negara. Saat ini beberapa perusahaan di Indonesia telah dan siap berinvestasi di Australia untuk membantu adanya jaminan ketahanan pangan Indonesia.
 
Salah satu target yang ingin dicapai dalam masa tugasnya di Australia, kata Nadjib, adalah menghasilkan jumlah transaksi perdagangan dan geliat investasi yang setidaknya proporsional dengan kemampuan ekonomi Indonesia di Asia Tenggara. "Nilai itu harus secara tepat mencerminkan kedekatan fisik dan eratnya hubungan antara Indonesia dan Australia," katanya.

Perlu disadari oleh para pengusaha Australia bahwa sebagai sesama anggota G-20, jumlah penduduk Indonesia merupakan sebuah pasar besar dengan jumlah seperempat milyar jiwa yang terletak di sebelah utara Australia.  Indonesia seharusnya menjadi jembatan utama bagi Australia untuk mencapai seluruh negara ASEAN lainnya. Dengan semakin berkembangnya gaya hidup rakyat Indonesia, Dubes Nadjib mengingatkan kembali para pengusaha Australia untuk segera meninggalkan "post-mining boom" dan bersiap untuk menikmati "dining boom" di Indonesia.

"Pemerintah Indonesia dan Australia telah melihat ketahanan pangan sebagai sebuah jembatan potensial untuk bekerjasama," katanya lagi. Karena itu, kata dia, kedua negara berinisiatif untuk membentuk "the Six Year Indonesia – Australia Rural Development Program" untuk menaikkan pendapatan peternak serta "the Indonesia – Australia Red Meat and Cattle Forum" untuk meningkatkan investasi peternakan di Indonesia.

Secara terpisah Pemerintah Indonesia telah menyiapkan program MP3EI dengan dua koridor di Indonesia Timur yang dapat dimanfaatkan oleh Australia karena kedekatan geografis yang ada.  

Di akhir paparannya, Nadjib menekankan kembali bahwa saat ini merupakan saat yang paling tepat bagi pengusaha dan rakyat kedua negara untuk meningkatkan hubungan ekonomi kedua negara karena kondisi hubungannya sedang bagus, situasi politik sedang kondusif, ekonomi kedua negara diakui sebagai anggota G-20 dan memiliki pertanian yang sama kuat serta mempunyai industri yang berbasis sumber daya.

Selain Nadjib, Forum ini juga mengundang beberapa pembicara lain dari Port of Townsville, ABARES, University of Adelaide, perwakilan Australia – India Business Council dan ANZ Bank sebagai pembicara.

Para pembicara menyampaikan bahwa dengan performa ekonomi yang baik, Asia merupakan sebuah kesempatan emas yang harus diraih dan sekarang adalah saat yang tepat untuk mengambil kesempatan tersebut. Demi memperlancar kerjasama ekonomi para pengusaha dihimbau untuk memahami karakteristik dan pola interaksi ekonomi di Negara-negara Asia berikut peluang serta resiko yang ada.

Pada sesi tanya jawab dan rehat, para pengusaha yang menghadiri forum ini sangat tertarik untuk membuka hubungan usaha dengan Indonesia. Saat ini, pengusaha di Queensland yang memiliki hubungan usaha dengan Indonesia masih terbatas pada industri ternak sapi dan gula.

Forum ini merupakan acara tahunan yang diselenggarakan oleh School of Business, James Cook University, Queensland. Kehadiran Dubes Nadjib sebagai pembicara merupakan kali pertama seorang Dubes negara asing diundang dalam forum ini. Forum ini mendapat perhatian luar biasa dari para pengusaha, tercatat sekitar seratus pengusaha dari negara bagian Queensland dan universitas di Australia seperti Advance Cairns, Townsville Enterprise, Asia Pacific junction, Especially Australian, Austrade, Mariana Shipping dan MacDonnell Law hadir dalam acara ini.

RILIS
 

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters recommends:

Diposkan oleh iwan di 01.55  

0 komentar:

Poskan Komentar