“Liliek Setiawan Belajar Bisnis Sejak Kecil - Timlo Net”

Selasa, 24 September 2013

“Liliek Setiawan Belajar Bisnis Sejak Kecil - Timlo Net”


Liliek Setiawan Belajar Bisnis Sejak Kecil - Timlo Net

Posted: 23 Sep 2013 11:10 PM PDT

Ranu Ario Kurniawan - Timlo.net

Selasa, 24 September 2013 | 13:08 WIB

Dok: Timlo.net/ Istimewa.

Dok: Timlo.net/ Istimewa.

Liliek Setiawan.

Iklan Pose In

Solo — Kiprah Liliek Setiawan di dunia bisnis memang sudah tidak diragukan lagi. Dia menjabat sebagai President of the board of directors dari perusahaan tekstil, Sekar Lima Pratama, dan Humas Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jawa Tengah. Selain itu, pernah juga mendirikan franchise kursus bahasa Inggris internasional EF (English First)  di Jawa Tengah.

Rupanya, ketrampilan berbisnis pria tersebut telah terasah semenjak kecil. Ya, sejak kecil, Liliek sudah aktif mencari penghasilan. Salah satu caranya adalah berjualan layang-layang. "Waktu kecil saya suka menggambar. Jadi saya membeli layang-layang polos lalu saya hias dengan gambar yang saya buat," kata Liliek kepada Timlo.net saat saat ditemui di El's Book & Café, Solo Paragon Mall, Rabu (18/9) malam.

Sewaktu bersekolah di SMA Negeri 3 Solo, dia mulai berjualan buku dan majalah bekas door to door dengan menggunakan sepeda motornya. Dan sebelum lulus SMA, pria kelahiran 8 September 1971 itu mulai berjualan kaos T-Shirt dan pakaian dalam wanita.

Kedua orangtua Liliek tidak melarang dia melakukan aktivitas-aktivitas tersebut. "Orang tua tidak melarang, gak apa-apa. Asal tidak membebani dan malah bisa memberi tambahan uang saku," ujar Liliek.

Liliek juga mengaku beruntung karena semasa kedua orang tuanya hidup, mereka mengajarnya berbagai prinsip hidup. Misalnya bahwa tidak boleh malu menjalankan usaha apa saja selama tidak melakukan hal-hal yang salah. Selain itu juga diajarkan untuk berteman dengan siapa saja tanpa membeda-bedakan.

Namun saat berusia 16 tahun, sang ayah, Gunawan meninggal dunia. Maka ibunya, Lanny Inggawati, harus menggantikan ayahnya memimpin usaha tekstil mereka. Liliek pernah berpikir untuk tidak melanjutkan kuliah dan membantu sang ibu. Hal tersebut dilakukan karena merasa memiliki kewajiban sebagai anak tertua sementara sang ibu tidak memiliki pengalaman menjalankan usaha tekstil.

Tapi niat tersebut ditolak oleh sang ibu. "Beliau ingin saya meneruskan ke jenjang kuliah, tapi saya harus memilih jurusan yang tidak memerlukan waktu lama untuk lulus. Karena itu, saya mengambil jurusan Akutansi yang saya pikir akan bermanfaat untuk bisnis keluarga," terang Liliek.

Setelah lulus, Liliek mulai bekerja di perusahaan tekstil milik keluarganya pada tahun 1996. Beberapa tahun kemudian, Indonesia terkena krisis moneter dan nilai tukar rupiah melemah. Sementara banyak bisnis yang kolaps, bisnis tekstil di waktu itu justru mengalami masa kejayaan karena keuntungan ekspor mereka.

Sekalipun memiliki beberapa bisnis dan menjadi pengusaha yang sukses, Liliek mengaku belum sukses. "Sukses itu tidak selalu diukur dengan materi. Kesuksesan itu harusnya bisa dirasakan oleh orang-orang di sekitar kita. Bila kesuksesan itu dirasakan diri sendiri, maka itu bukan kesuksesan," kata Liliek.

 

         

Berita Terkait

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters recommends:

Diposkan oleh iwan di 01.21  

0 komentar:

Poskan Komentar