“Pebisnis Masih Optimistis - Padang Ekspres”

Sabtu, 03 Agustus 2013

“Pebisnis Masih Optimistis - Padang Ekspres”


Pebisnis Masih Optimistis - Padang Ekspres

Posted: 02 Aug 2013 10:57 PM PDT

Pebisnis Masih Optimistis

Ekonomi Indonesia Dibayangi Sentimen Positif

Padang Ekspres • Sabtu, 03/08/2013 12:46 WIB • Redaksi • 21 klik

Jakarta, Padek—Berbagai indikator negatif ekonomi Indonesia belum meredupkan optimisme para pelaku usaha. Bahkan, para pebisnis ini kian optimistis.

 

Kepala Badan Pusat Sta­tistik (BPS) Suryamin menga­takan, optimisme para pebis­nis itu tercermin dari indeks tendensi bisnis (ITB) yang datanya didapat dari survei kepada para pelaku usaha. "Hasilnya, optimisme pebisnis pada triwulan kedua dan tri­wulan ketiga cenderung naik," ujarnya, kemarin (2/8).

 

Data BPS menyebut, nilai ITB pada triwulan I 2013 lalu hanya 102,34 poin. Ambang persepsi optimistis ditandai dengan patokan standar 100. Artinya, semakin tinggi nilai ITB, maka optimisme pebisnis makin tinggi. Pada triwulan II, nilai ITB naik menjadi 103,88. Sedangkan ITB triwulan III naik lagi menjadi 105,95. Sur­vei ini dilakukan pada 2.500 pim­pinan perusahaan besar dan sedang di seluruh Indonesia.

 

Menurut Suryamin, para pelaku usaha di sektor listrik, gas, dan airu bersih menun­jukkan optimisme paling tinggi dengan nilai ITB 105,83. Ke­mudian disusul pelaku usaha di sektor perdagangan, hotel, dan restoran dengan nilai ITB 105,53. "Sementara, optimis­me pelaku usaha di sektor pertambangan dan penggalian adalah yang terendah dengan nilai ITB 100,13," ucapnya.

 

Ketika diminta untuk mem­­proyeksi prospek bis­nisnya pada triwulan III 2013 akan seperti apa, pelaku usaha di sektor perdagangan, hotel, dan restoran menjadi yang paling optimistis dengan nilai ITB 108,48. "Ini bisa terjadi karena momen puasa dan Lebaran ada di triwulan III dan sudah pasti konsumsi masyarakat naik dan berimbas positif pada sektor ini," jelas Suryamin.

 

Meskipun dalam survey secara umum pelaku bisnis masih cukup optimistis, Ketua Umum Kamar Dagang dan In­dustri (Kadin) Suryo Bam­bang Sulisto mengatakan, kon­disi bisnis pada triwulan III cukup riskan. "Ini terkait dam­pak ke­naikan harga BBM," ujarnya.

 

Menurut dia, kenaikan BBM memicu lonjakan inflasi yang lantas direspons Bank Indonesia (BI) dengan me­naik­kan BI Rate dan Fasilitas BI (Fasbi). Akibatnya, bank-bank pun mulai ikut mengerek suku bunga simpanan maupun kredit. "Kalau bunga kredit naik, ini bisa berakibat pada naiknya NPL (nonperforming loan/kredit macet)," katanya.

 

Karena itu, lanjut dia, pela­ku usaha meminta agar bank tidak serta merta menaikkan suku bunga kredit. "Selama ini, bank kan sudah mendapat laba tinggi, maka sekarang mari kita pi­kul (beban) ini sama-sama, agar ekonomi tetap bisa tum­buh," ucapnya. (owi/sof/jpnn)

[ Red/Administrator ]

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters recommends: 'You Say What You Like, Because They Like What You Say' - http://www.medialens.org/index.php/alerts/alert-archive/alerts-2013/731-you-say-what-you-like-because-they-like-what-you-say.html

Diposkan oleh iwan di 01.33  

0 komentar:

Poskan Komentar