“Trade Center Mengepung, Bisnis Eka Sempat Goyah 2”

Kamis, 30 Mei 2013

“Trade Center Mengepung, Bisnis Eka Sempat Goyah 2”


Trade Center Mengepung, Bisnis Eka Sempat Goyah 2

Posted: 30 May 2013 12:53 AM PDT

KOMPAS.com - Sukses bisnis busana muslim Eka Putra tidak diraih dengan mudah. Sejak merintis usaha tahun 1992, banyak tantangan dan  hambatan yang harus ia hadapi.

Eka berceritera mengenang perjalanan usahanya, bahwa  periode 1992 sampai 1995 terhitung yang mulus. "Ekonomi juga sedang baik," ujar pria asli Sumatera Barat ini.

Namun, memasuki tahun 1997, ia mengaku bisnisnya mulai agak tersendat. Saat itu, di Bandung sudah mulai bermunculan pusat-pusat ritel modern, seperti trade center dan mal. "Sejak trade center menjadi tren di tahun itu, banyak ruko yang tutup," terang Eka.

Kondisi ini diperparah dengan terjadinya krisis ekonomi pada tahun 1998. Krisis itu ditandai dengan melejitnya seluruh harga produk-produk.
Tak terkecuali produk fesyen. Sebelum krisis moneter, ia masih bisa membeli kaos oblong seharga Rp 3.000 per potong.

Namun, sejak tahun 1998, harga pembelian seluruh produk melonjak hingga dua kalinya. Supaya tetap untung, ia terpaksa mengerek harga jual kendati saat itu kondisi pembelian mulai sepi.

Kondisi itu membuat omzet usahanya menciut hingga kurang dari setengah dari yang sebelumnya ia raih. Kondisi tersebut  memaksa Eka menutup usaha. Maka, pada tahun 2002, ayah tiga orang putra ini akhirnya melakukan oper kontrak ruko miliknya beserta seluruh isinya.

Namun demikian,  semangatnya untuk berbisnis tidak padam. Di tahun yang sama, Eka memutuskan untuk mengikuti tren dengan membuka usaha di King's Shopping Center, Bandung, yang kala itu sedang ramai dikunjungi.

Di pusat perbelanjaan itu ia fokus berjualan pakaian remaja putri. Pangsa pasarnya anak SMA dan mahasiswa. Ternyata sukses. Ia merasakan omzetnya terus naik. Maka, outletnya bertambah  menjadi tiga buah.

Setelah menikah di tahun 2004, Eka memberikan satu gerai miliknya kepada sang adik. Ia sendiri pada tahun 2006 menambah gerainya di Metro Tanah Abang, Jakarta, dan kemudian di tahun 2007 membuka gerai lagi di Cikarang.

Pada 2008, ia pun mencoba mulai memproduksi sendiri pakaian yang ia jual. Namun, volumenya masih terhitung kecil, yakni 400 - 600 potong sebulan. Ternyata tidak sukses. "Ada kesalahan perhitungan," kata Eka. Langkah itu rupanya membuat usahanya justru merosot sehingga ia terpaksa menutup dua gerainya.

Kemudian Eka mengubah jenis jualannya dari pakaian remaja ke busana muslim wanita. Ide tersebut didapatnya sepulang dari ibadah haji. Sama halnya dengan pakaian remaja putri, Eka juga memproduksi sendiri busana muslim yang ia jual. "Awalnya baru 1.000 potong per bulan," tutur Eka.

Produk busana muslim buatannya ternyata mendapat respon positif dari pasar. Sejak itu, ia fokus memproduksi busana muslim dengan mengusung merek Fresh Fashion. Kini, saban bulan ia memproduksi hingga belasan ribu potong busana muslim.   (bersambung) (Revi Yohana)
Baca berita sebelumnya: Dari Penjaga Toko, Menjadi Pengusaha Fashion (1)
 

Editor : Erlangga Djumena

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters recommends: 'You Say What You Like, Because They Like What You Say' - http://www.medialens.org/index.php/alerts/alert-archive/alerts-2013/731-you-say-what-you-like-because-they-like-what-you-say.html

Diposkan oleh iwan di 01.05  

0 komentar:

Poskan Komentar