“Peluang Bisnis Masker di Jakarta - Republika Online”

Rabu, 27 Maret 2013

“Peluang Bisnis Masker di Jakarta - Republika Online”


Peluang Bisnis Masker di Jakarta - Republika Online

Posted: 27 Mar 2013 01:27 AM PDT

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kotornya udara di DKI Jakarta dapat menjadi lahan bisnis bagi beberapa orang. Bisnis masker misalnya, ternyata bisa menghasilkan omset jutaan rupiah per bulannya.

"Baru di Jakarta saja yang begini penjualannya, di kota lain susah," ujar Karno, seorang penjual masker di Grogol Jakarta Barat, Rabu (27/3).

Karno yang mengaku telah berbisnis masker sejak tujuh tahun lalu ini, mengatakan omsetnya naik tiap tahun. "Makin kotor udaranya di Jakarta, jadi yang beli masker makin banyak," ujarnya menduga.

Pertama kali menjual masker pada Mei 2006, usaha Karno tidak terlalu lancar. Pria berumur hampir mencapai kepala empat ini sempat berutang kemana-mana. Namun, dengan modal dua juta rupiah, ia dapat bangkit lagi berbisnis masker.

"Awalnya jualan pakai gerobak, terus untungnya naik, sampai bisa beli kios kecil ini," katanya menerangkan.

Omset Karno saat ini bisa mencapai lima sampai enam juta rupiah per bulan. "Lumayan buat orang yang jualan di pinggir jalan macam saya," ujarnya.

Hal serupa dilontarkan Supiah, pedagang masker di stasiun Cawang. Ibu dua anak ini tadinya berjualan kaos kaki, namun untungnya tak cukup untuk membiayai sekolah kedua anaknya. "Terus saya diajak teman jualan masker, di Jakarta laku keras sih," kata Supiah.

Supiah mengaku pernah mencoba berjualan masker di kota lain. "Pernah coba jualan di Cirebon, kan sama-sama panas dan berdebu, tapi gak laku," ujar Supiah yang saat itu berniat tinggal rumah orang tuanya di Cirebon.

Akhirnya, ia kembali jualan masker di Stasiun Cawang dan menghasilkan omset dua juta perbulan. Di Jakarta saat ini memang sudah tidak aneh melihat orang memakai masker. Udara Jakarta yang kotor membuat warganya merasa wajib memakai penyaring udara tersebut.

Masker yang awalnya hanya dipakai bagi kalangan tertentu ini saat ini banyak ditemukan dijual dipinggir jalan. "Udaranya kotor sih, kalau gak pakai masker nanti kena sakit macam-macam," ujar Dinda, penumpang kopaja yang sedang memakai masker.

Masker yang dijual hingga pinggiran jalan ini bermacam-macam. Dari masker biasa yang bisa dibeli di apotek hingga masker motif unik dan lucu yang diproduksi rumahan. Harganya pun bermacam-macam. Karno dan Supiah memberi harga seribu rupiah untuk masker hijau biasa, untuk masker dengan motif unik dibandrol dari harga Rp 5.000 hingga Rp 15.000. "Tergantung bahan dan motifmya," terang Karno.

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters recommends: Jousting With Toothpicks - The Case For Challenging Corporate Journalism http://www.medialens.org/index.php/alerts/alert-archive/alerts-2013/719-jousting-with-toothpicks-the-case-for-challenging-corporate-journalism.html.

Diposkan oleh iwan di 01.48  

0 komentar:

Poskan Komentar