“Membuat Hobi Jadi Bisnis - Tempo.co”

Minggu, 24 Maret 2013

“Membuat Hobi Jadi Bisnis - Tempo.co”


Membuat Hobi Jadi Bisnis - Tempo.co

Posted: 24 Mar 2013 01:25 AM PDT

Minggu, 24 Maret 2013 | 15:21 WIB

TEMPO.CO, Jakarta - Jangan remehkan hobi. Banyak pebisnis sukses mengawali usahanya dari hobi yang kelihatan tidak penting. Hobi sendiri bisa dibilang kegemaran yang disukai dan dilakukan berulang kali. Menurut Mike Rini Sutikno, seorang perencana keuangan dari PT Mitra Rencana Edukasi (MRE) dan pendiri komunitas Dare To Dream Indonesia (D2DI), untuk memulai bisnis harus dimulai dengan passion atau hasrat. Menurutnya, tanpa modal besar tapi memiliki passion bisa mengembangkan bisnis menjadi besar.

"Kunci bisnis itu hanyalah disiplin dan konsisten serta fokus," kata Mike dalam seminar "Hobby Jadi Bisnis" yang dilaksanakan D2DI dan komunitas Mompreneur, di Gedung Sarinah, Jakarta Ahad, 24 Maret 2013. "Setelah itu baru dikomersilkan," lanjutnya.

Menurut Mike, dalam tiga tahun ke depan, seorang pebisnis mulai belajar dan menganalisa usaha yang dilakukannya menguntungkan atau tidak dengan cara membuat proyeksi keuangan. "Learning from the mistakes. Dalam tiga tahun itu jangan berharap mendapatkan untung gede dulu," kata Mike.

Memulai bisnis dari hobi, kata Mike, harus ditunjang dengan beberapa langkah awal seperti happy (bahagia), uang, aktualisasi diri dan community (masyarakat). "Jangan pernah meremehkan kata bahagia dalam bisnis. Anda harus merasa bahagia dengan bisnis Anda jika menginginkan usaha itu sukses" kata Mike.

Dengan bahagia, melakukan bisnis yang dirintis bisa dilihat oleh pelanggan, sehingga bisa mendapatkan pendapatan lebih banyak. "Berbisnis itu fokus dan yakin. Kita juga harus mempunyai mimpi," katanya.

Sedangkan modal, menurutnya, memang diperlukan dalam memulai bisnis tapi bukan hal yang utama. "Bisnis bukan dimulai, tapi bagaimana Anda bertahan. Harus ada visi yang merupakan sebuah solusi tidak hanya mendapatkan keuntungan," kata Mike yang menyarankan lebih baik terpisah membuat rekening bisnis dan pribadi.

Sedangkan untuk community atas masyarakat, kata Mike, berbisnis itu harus diperhitungkan dampak sosial bagi masyarakat sekelilingnya. "Misalnya ada yang berjualan makanan, seperti nugget. Apa yang membedakan dengan nugget lain, apakah lebih sehat, bergizi, tidak menggunakan zat kimia atau zat pengawet. Itu harus dijelaskan supaya pelanggan mengetahui dan menjadi andalan Anda," tutur Mike.

ALIA FATHIYAH

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters recommends: Jousting With Toothpicks - The Case For Challenging Corporate Journalism http://www.medialens.org/index.php/alerts/alert-archive/alerts-2013/719-jousting-with-toothpicks-the-case-for-challenging-corporate-journalism.html.

Diposkan oleh iwan di 01.27  

0 komentar:

Poskan Komentar