“Catatan Plus Minus Empat Calon Presiden Indonesia di Mata Media ... - Tribunnews”

Jumat, 29 Maret 2013

“Catatan Plus Minus Empat Calon Presiden Indonesia di Mata Media ... - Tribunnews”


Catatan Plus Minus Empat Calon Presiden Indonesia di Mata Media ... - Tribunnews

Posted: 29 Mar 2013 01:14 AM PDT

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA
Pemilihan presiden di Indonesia masih 15 bulan lagi, namun Indonesia sudah terobsesi untuk membicarakan pengganti Susilo Bambang Yudhoyono.

Inilah penilaian koresponden Fairfax Media Australia untuk Indonesia, Michael Bachelard.

Fairfax Media adalah salah satu kelompok media terbesar di Australia, antara lain memiliki surat kabar Sydney Morning Herald (Sydney), The Age (Melbourne) dan Brisbane Times (Queensland). Dengan berakhirnya masa jabatan SBY, menurut Bachelard, elit politik Australia dengan seksama akan mengikuti perkembangan siapa yang akan menjadi presiden berikutnya.

Namun calon yang ada menurut Bachelard, tidaklah yang mengesankan. "Apa yang kami miliki adalah apel busuk," kata pengamat politik dari CSIS, Phillips Vermonte. "Namun kami harus memakannya juga." Berikut penilaian Michael Bachelard mengenai beberapa kandidat sejauh ini:

PRABOWO SUBIANTO.

Tokoh yang favorit ini adalah mantan jenderal yang memiliki masa lalu gelap. Bila dia mengajukan visa untuk mengunjungi Australia, besar kemungkinan akan ditolak karena pelanggaran hak asasi manusia.

Namun Prabowo - yang merupakan mantan Danjen Kopassus - sudah menghabiskan waktu selama lima tahun terakhir untuk memperbaiki citranya sebagai tokoh sipil di Indonesia, dan memimpin jajak pendapat sebagai calon kuat untuk menjadi presiden.

Sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Partai Gerindra, Prabowo digambarkan sebagai tegas, untuk mengkontraskan dengan presiden saat ini yang peragu.

Didukung oleh bisnis keluarganya yang makmur untuk membantu usahanya menjadi presiden, Prabowo lebih senang menyebut diri sebagai peternak kambing, orang kebanyakan. Namun kerja keras dan uang yang dimilikinya tidak bisa mencegah masa lalu muncul kembali.

Juru bicara Departemen Luar Negeri Australia mengatakan kunjungan ke Australia oleh pejabat Indonesia penting untuk membina hubungan kedua negara, namun menolak memberikan komentar apakah Prabowo akan mendapat visa atau tidak.

Di Amerika Serikat, Prabowo masuk dalam daftar terlarang. Bila terpilih, pemerintah AS dan Australia mungkin akan bersikap pragmatis dengan mencabut larangan berkunjung tersebut, walau mungkin  mereka tidak menyukainya.

ABURIZAL BAKRIE

Adalah calon kedua potensial. Namun ini bukan karena dia memang populer, tapi hanya karena dia menjadi ketua umum Partai Golkar. Pernah menjadi orang terkaya di Indonesia, Aburizal sekarang berada di peringkat 40, namun perusahaan keluarga yang dimilikinya, Bakrie and Brothers, yang bergerak di bidang pertambangan dan properti masih memiliki kekayaan besar, diperkirakan sekitar 10 miliar dolar.  

Namun orang tidak akan kaya di Indonesia begitu saja, tanpa adanya kontroversi dalam bisnis. Di bisnis internasional, Bakrie terlibat sengketa dengan pengusaha Inggris Nathaniel Rothschild dalam usaha patungan mereka di Bumi Resources. Dua kali Bakrie Brothers hampir bangkrut. Mereka juga mampu menghindar untuk tidak membayar utang internasional maupun pajak.

Namun di mata kebanyakan rakyat Indonesia, keburukan utama Bakrie adalah dalam krisis lumpur gas di Sidoarjo. Tahun lalu, Aburizal berkunjung ke Australia dalam usaha untuk tampil seperti seorang negarawan.

Dr Marcus Mietzner, dosen Universitas National Australia (ANU) menghabiskan waktu dengan Aburizal dalam kunjungan tersebut, dan mengatakan "cukup terkesan" dengan penampilan Aburizal ketika berbicara dengan para ekonom dan akademisi, karena "dia terbiasa berdebat dengan orang yang setingkat dengan dia".

"Namun dia jelas sekali canggung ketika harus berbicara dengan petani atau nelayan di tengah terik sinar matahari. Itu sama sekali bukan dunianya." kata Mietzner.

MEGAWATI SUKARNOPUTRI.

Beberapa kali dianggap favorit untuk menjadi presiden, namun dalam pemilihan presiden tahun 2004 dan 2009 tidak berhasil. Dengan jajak pendapat sekitar 20 persen, tampaknya angka tersebut tidak pernah berubah banyak. Megawati dianggap banyak kalangan sebagai presiden yang tidak tegas dan tidak populer ketika menjadi presiden di tahun 2001 sampai 2004 ketika menggantikan Abdurrahman Wahid yang diberhentikan sebagai presiden.

Megawati belum memutuskan apakah akan mencalonkan diri sebagai presiden di tahun 2014, bahkan suaminya sendiri Taufik Kiemas menentang pencalonannya. Kiemas mendukung putrinya sendiri Puan Maharani yang menurut mayoritas warga Indonesia, belum memiliki kemampuan untuk posisi tersebut.

JOKO WIDODO.

Politisi paling populer di Indonesia saat ini adalah Joko Widodo, dan paling mungkin terpilih langsung bila mencalonkan diri. Gubernur Jakarta ini baru enam bulan menjabat, sehingga belum memiliki rekor apapun dalam menyelesaikan masalah Jakarta, kecuali kartu Jakarta sehat dan beberapa idenya untuk mengurangi banjir di ibukota.

Baru berusia 40 tahunan, Jokowi adalah satu generasi lebih muda dibandingkan para pimpinan partai lain yang kebanyakan berasal dari era Suharto.

Dia juga dikenal sebagai politisi yang bersih dari korupsi. Namun dia adalah anggota PDI-Perjuangan dimana Megawati mungkin akan mencalonkan dirinya sendiri.

Bila komentarnya bisa dipercaya, Jokowi saat ini tidak berambisi menjadi presiden. Namun menurut banyak kalangan mendesak Jokowi untuk mencalonkan diri sekarang di saat dia sedang populer, tidak menunggu sampai dia bergelimang dengan masalah Jakarta yang tidak mungkin terselesaikan. (L. Sastra Wijaya/Rusdi Amral)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters recommends: Jousting With Toothpicks - The Case For Challenging Corporate Journalism http://www.medialens.org/index.php/alerts/alert-archive/alerts-2013/719-jousting-with-toothpicks-the-case-for-challenging-corporate-journalism.html.

Diposkan oleh iwan di 01.49  

0 komentar:

Poskan Komentar