“Bisnis Label Lady Voo Tak Mau Selamanya Jadi UKM - Swa”

Sabtu, 30 Maret 2013

“Bisnis Label Lady Voo Tak Mau Selamanya Jadi UKM - Swa”


Bisnis Label Lady Voo Tak Mau Selamanya Jadi UKM - Swa

Posted: 30 Mar 2013 12:03 AM PDT

Lahir sebagai anak pengusaha bukan jaminan bahwa seseorang pasti fasih dalam hitungan bisnis. Tapi, meski awalnya gagap soal bisnis, perancang busana Vonny Chyntia Kirana mulai bisa menanggguk laba lewat label busananya sendiri, Lady Voo. Perempuan lajang kelahiran Pematang Siantar, 10 Agustus 1987 ini membesut label tersebut mulai tahun 2010. Ia hanya berbekal modal Rp 15 juta dan satu tenaga kerja, yaitu dirinya sendiri. Padahal, kedua orang tuanya, Denny Kirana dan Fenny Ongkowidjojo, sukses mengimpor bahan aksesoris dari China. Ngotot belajar mode di École Supérieure des Arts et Techniques de la Mode (ESMOD) Jakarta, Vonny pun tercetak sebagai tenaga profesional yang lebih menguasai desain ketimbang hitung-hitungan bisnis. Menariknya, pehobi nonton film ini dikenal rajin oleh para pengajar ESMOD. Kini, ia tengah tertantang menaikkan omzetnya dari kisaran Rp 30-60 juta.

Vonny Chintia Kirana, Lady Voo

Vonny Chintia Kirana

Di sela persiapan peragaan busananya di Mal Kelapa Gading, Vonny mengobrol dengan Rosa Sekar Mangalandum dari SWA seputar bisnisnya:

Apa yang mendorong Anda memilih karier di bidang mode?

Sejak TK (taman kanak-kanak) saya memang suka menggambar. Tapi, hanya senang gambar komik saja, berhubung mode belum booming dulu. Dan saya pun tinggal di daerah, yaitu Pematang Siantar yang berjarak tiga jam perjalanan dari Medan. Beranjak remaja, saya mulai membaca majalah mode. Yang pertama majalah Dewi. Saya pun ingin bisa membuat baju-baju seperti yang digambarkan di majalah. Apalagi di Pematang Siantar, baju seperti itu sulit dicari. Pada waktu SMP itulah minat saya makin mengarah ke mode. Meski dengan pengetahuan mode nol, saya tetap gemar menggambar baju sampai SMA.

Orang tua melihat, saya memang suka mode. Namun, cukup susah menyakinkan mereka. Mereka banyak menceramahi saya pada awalnya. "Lebih baik kamu cari pekerjaan yang pasti. Tapi, kalau sudah yakin ya, tidak apa-apa," kata mereka. Saya ngotot juga sebenarnya. Menjelang lulus SMA, saya mengungkapkan bahwa saya ingin kuliah mode. Saya sudah cari banyak info lewat internet. Pada akhirnya, orang tua mengizinkan sebab mereka melihat minat saya sejak SMP memang mode. Dan tidak melenceng ke mana-mana satu kali pun. Maka, selulus SMA, saya langsung mengambil program diploma internasional di ESMOD Jakarta pada 2005.

Bagaimana proses Anda membekali diri jadi perancang profesional?

Saya belajar dari nol. Saya mengambil program diploma tiga tahun. Tidak ambil program satu tahun karena terasa tidak memadai buat saya yang masih belum tahu apa-apa. Saya mulai belajar menggambar orang, pola, membuat style, desain, sampai cara menjahit. Pada tahun pertama, saya belum menonjol. Masih belajar.

Harus diakui, saya agak perfeksionis sehingga ingin selalu bagus. Guru-guru bilang, saya termasuk anak rajin. Saya pikir, yang penting adalah menepati tugas mesti lengkap dan tepat deadline dulu. Untuk itu, saya melakukan semua yang harus dilakukan.

Di samping itu, ESMOD memang melatih mental saya serta siswa lainnya lewat proyek yang beruntutan. Dalam satu minggu, kami harus mengerjakan 2-3 proyek. Tak ada waktu untuk leyeh-leyeh.

Selain mengerjakan proyek, saya juga ikut berbagai lomba mode. Semula masuk 60 besar, 30 besar, pelan-pelan menanjak ke 10 besar. Ini merupakan bagian dari proses saya belajar di ESMOD.

Bagaimana lika-liku membesut Lady Voo?

 

Begitu lulus ESMOD tahun 2008, saya sempat bingung mau melakukan apa. Apakah mau kerja sama orang atau yang lain? Semasa kuliah, saya pernah magang di Majalah Seventeen, di perusahaan garmen, sampai untuk perancang busana. Dari pengalaman itu, saya tahu bahwa saya tak terlalu sreg kerja sebagai perancang. Ada banyak teman dan kakak kelas yang bekerja untuk perancang. Saya lihat, sesudah delapan tahun berkarier, mereka hanya jadi asisten desainer. Mereka bekerja pontang-panting di balik panggung tiap kali peragaan busana, namun membawa nama si perancang. Kalau saya mengambil jalan yang sama, saya pasti membuang waktu. Jadi, saya coba saja bikin brand sendiri pada tahun 2009. Jualan dimulai secara online dan jejaring sosial dulu.

Di tengah proses itu, saya ikut kompetisi lagi, yakni Lomba Perancang Mode (LPM) 2009. Meski tak menang, saya berhasil masuk posisi 10 besar. Nah, pada LPM 2009, sebagian besar rancangan merupakan baju pesta. Dari sini, saya tahu bahwa passion saya bukanlah baju pesta, melainkan busana siap pakai (ready to wear). Ini saya anggap proses pengenalan diri sendiri sampai menemukan yang pas untuk saya. Sewaktu kuliah dulu, saya suka membuat rancangan bergaya futuristik yang berkawat-kawat dan tampak aneh. Kemudian, saya pikir-pikir, kalau bikin baju yang aneh terus, pasti saya kesulitan menjualnya. Bagaimana saya bisa dapat duit kalau begitu?

Setelah LPM 2009, saya ikut lomba Gading Fashion Entrepreneur Award (GFEA) pada 2010. GFEA 2010 ditujukan untuk wirausahawan mode dan khusus untuk kategori busana siap pakai. Saat mengikuti ajang ini, saya benar-benar mengalami peralihan dari aliran kreatif ke busana siap pakai. Pada awalnya, saya ingin memasukkan semua unsur kreatif ke dalam satu baju. Padahal biaya produksinya tinggi dan orang belum tentu mau mengenakannya. Jadi, saya mulai paham bahwa pembeli tidak ingin baju yang terlalu merepotkan, bahan yang terlalu tebal, ataupun yang antik-antik.

Untunglah ada pembimbing yang tak lain ialah Musa Widyatmodjo sendiri. Beliaulah pemilik The Catwalk Fashion Gallery di Mal Kelapa Gading. Pada kesempatan GFEA 2010, saya dan peserta lain menerima bimbingan dari beliau. Ini saya syukuri. Kalau tidak ikut GFEA 2010, mungkin Lady Voo tidak akan dapat tempat di mana-mana.

Soal wawasan usaha, saya mendapat pembekalan seputar perhitungan bisnis semasa jadi mahasiswa ESMOD walaupun sifatnya tidak mendalam. Pembekalan lebih lanjut saya dapatkan, lagi-lagi, berkat memenangi GFEA 2010. Saya mendapat beasiswa Fashion Business Retail di ESMOD. Jadi, saya kembali belajar di ESMOD selama September 2010 sampai pertengahan 2011. Saat itulah saya belajar lebih banyak perihal bisnis dan pemasaran.

Bagaimana cara Anda meyakinkan pihak The Catwalk, Alun-Alun Indonesia, Manekineko sehingga mereka mau menerima Lady Voo?

Tahun 2009, Lady Voo belum masuk toko sama sekali. Berkat GFEA 2010, tawaran masuk mal mulai berdatangan juga. Salah satunya datang dari The Catwalk milik Musa Widyatmojo di Mal Kelapa Gading. Selain itu, setelah memenangi ajang tersebut, saya ikut pameran di JCC. Di situlah saya bertemu buyer Alun-Alun Indonesia dan Mazee.

Ritel pertama tempat saya mulai menjual Lady Voo adalah The Catwalk. Kedua, Lady Voo masuk Alun-Alun Indonesia pada akhir 2010, hampir berbarengan dengan Mazee. Sayangnya, Mazee yang terletak di FX Lifestyle itu sudah tutup tahun ini. Terakhir, Lady Voo menembus toko Manekineko di Rasuna Epicentrum.

Masuk mal awalnya gampang. Tawaran berdatangan dari pihak mereka karena saya ikut pameran. Namun, saya ingin lebih besar. Saya tidak bisa menunggu bola datang terus-terusan. Artinya, sayalah yang harus lebih aktif sekarang. Saya mulai cari-cari tempat sendiri. Caranya kirim e-mail, kirim contoh barang, ajak bertemu, dan datang ke tempat itu satu per satu. Tanggapan mereka positif pada umumnya.

Apa konsep yang ditawarkan Lady Voo?

Lady Voo menawarkan busana siap pakai. Konsepnya urban klasik. Saya merancang model feminin buat Lady Voo supaya sisi lady-nya terangkat. Dilihat dari warna, Lady Voo tidak warna monokromatik, melainkan playful sekaligus tetap anggun. Sejauh ini, produksi dan model Lady Voo masih terbatas. Nah, inovasi produknya terletak pada perpaduan yang saya buat antara bahan kasual dengan bahan tenun Nusantara. Lady Voo punya pemasok kain tenun sendiri.

Apa kelebihan Lady Voo dibanding label lain?

Karena berkonsep klasik, Lady Voo tidak cepat ketinggalan zaman alias timeless. Soal harga, Lady Voo lebih terjangkau. Label perancang lain dibanderol dengan harga rata-rata Rp300.000 ke atas.

Memangnya berapa rentang harga Lady Voo?

Lady Voo saya jual dengan kisaran harga Rp200.000-Rp300.000.

Siapa saja sasaran pembeli Lady Voo?

Sampai kini, Lady Voo dikhususkan untuk perempuan usia 20-30 tahun. Tapi, tidak tertutup kemungkinan perempuan yang lebih dari itu juga memakai Lady Voo. Malahan, saya punya seorang pelanggan yang sudah 40-an tahun. Biasanya, perempuan yang menggemari label ini berkarakter fashionable, klasik, namun juga berani mencoba hal baru.

Berapa besar modal Anda ketika mulai?

Sebenarnya saya mulai dengan modal kecil. Tak lain dari duit menang kompetisi GFEA 2010, sebesar Rp 15 juta saja. Pelan-pelan, hasil usaha saya kumpulkan untuk menambah modal lagi secara bertahap. Saya memang tidak minta modal dari orang tua karena sampai sekarang pun, saya masih bisa mengembangkan usaha sendiri. Mungkin nanti kalau memang akan serius menembus pasar Asia atau Eropa, barulah saya perlu minta bantuan orang tua.

Bagaimana keadaan bisnis Lady Voo sekarang?

 

Setelah berjalan hampir tiga tahun, saya sudah bisa mulai memetik keuntungan. Omzet berkisar Rp 30-60 juta per bulan jika penjualan online dan offline digabung.

Bagaimana proses produksi?

Dulu, semua saya kerjakan sendiri, mulai dari membuat desain, pola, sampai memotong kain. Begitu sampai pada urusan jahit, ada orang lain yang saya serahi tugas itu. Seiring waktu, porsi kerja saya berkurang. Sekarang saya tinggal menggambar desain. Kemudian untuk pembuatan pola, saya serahkan ke orang lain.

Berapa jumlah karyawan?

 

Sekarang saya mempekerjakan lima orang di rumah untuk membuat sample. Sementara untuk produksi, sebagian besar rancangan saya lempar ke penjahit agar digarap sampai selesai. Salah satu penjahit yang bekerja khusus untuk Lady Voo terletak di Pademangan, Jakarta.

Seberapa besar kapasitas produksi?

Produksi Lady Voo berkisar 200-500 potong baju tiap bulan. Tiap hari raya, semisal Lebaran dan Natal, produksi bisa meningkat banyak. Misalnya ada pameran, saya juga mengejar produksi dan penjualan.

Frekuensi pembuatan model baru paling lama dua minggu sekali. Dalam jangka waktu itu, pasti ada 8-10 model baru. Supaya lebih cepat, saya mengusahakan ada desain baru yang masuk toko tiap minggu.

Berapa toko yang menjual Lady Voo sekarang?

 

Ada lima toko ritel yang menjual Lady Voo, yaitu The Catwalk Mal Kelapa Gading, Alun-Alun Indonesia Central Park, Alun-Alun Indonesia Alam Sutera, Alun-Alun Grand Indonesia, dan Manekineko di Rasuna Epicentrum. Sedangkan di jalur e-commerce atau toko online, Lady Voo masuk ke tiga situs, yaitu BerryBenka.com, FashionBiz.co.id, dan Local Designer.com.

Sementara itu, situs Lady Voo sendiri masih keteteran untuk menjual produk. Saya harus membenahi ini sebelum mengikuti Hongkong Fashion Week pada Juni 2013 mendatang.

Bagaimana pola bisnis?

 

Pola bisnis Lady Voo masih titip jual (konsinyasi), baik di toko offline maupun online. Biasanya untuk toko online, saya memberi margin 25%-40% buat toko, tergantung kesepakatan.

Apa tantangan yang Anda hadapi selama ini?

Namanya juga proses kreatif, Lady Voo bukan cuma bicara bisnis, tapi penggabungan antara kreativitas dengan bisnis untuk menghasilkan duit. Dua-duanya ada. Karena itu, kini saya lebih memikirkan, kalau menciptakan suatu rancangan, apa bisa menghasilkan duit atau tidak?

Sejujurnya, saya jarang mengalami kesulitan mencari ide. Soalnya, dengan mencari di internet pun, saya bisa menemukan banyak ide rancangan baru. Nah, yang penting, bagaimana mengaplikasikan ide itu ke rancangan yang mau saya jual? Kalau lihat sesuatu yang baru dan lucu, saya pikir-pikir dulu. Apakah bisa diterapkan, apakah biaya produksinya seimbang, apakah bahannya memungkinkan dipakai orang?

Selain itu, yang pasti, meningkatkan penjualan sangatlah menantang. Walaupun kedua orang tua  pebisnis, keterampilan dasar saya sendiri justru kreatif, bukan bisnis. Saya suka membaca buku dan ikut seminar tentang bisnis dan pemasaran. Saya juga belajar dari UKM yang sudah sukses, bagaimana cara mereka menjadi besar.

Saya ingin Lady Voo jadi besar. Maka, saya cari-cari tempat baru untuk pemasaran. Sayangnya, tempat-tempat tertentu terlanjur penuh, padahal si pemilik sebenarnya suka menerima Lady Voo. Saya pun pernah mendapat tawaran untuk menjual Lady Voo ke Tangerang, sampai Bali. Tapi, saya belum sanggup menjangkau daerah-daerah itu.

Memang untuk jadi besar, saya butuh orang lain untuk membantu di bidang pemasaran dan manajemen. Saya masih belum dapat partner untuk ini. Semua masih saya kerjakan sendiri, mulai dari desain, produksi, sampai pemasaran.

Apa rencana besar tahun ini?

 

Sementara ini, saya fokus memasarkan produk di Jakarta dulu. Usaha tembus Bandung masih dijalankan juga. Mudah-mudahan, berhasil masuk pada pertengahan tahun nanti . Ke depan, Lady Voo ingin jangkauan yang lebih luas.

Bulan Juni nanti, saya akan membawa koleksi aksesoris ke catwalk Hongkong Fashion Week 2013. Sebelumnya, koleksi ini memenangi Indonesia Fashion Entrepreneur Competition 2013, untuk kategori aksesoris, dalam rangka Indonesia Fashion Week di tahun yang sama. Kalau panitia menyetujui, saya ingin membawa koleksi busana sekalian, tidak hanya aksesoris. Targetnya, dapat buyer asing supaya Lady Voo bisa tembus pasar mancanegara. Bisa menembus Asia saja, saya sangat berterima kasih. Untuk ke Eropa, saya akan lihat lagi.

Selain Hongkong Fashion Week, rencana terdekat adalah bikin second line. Kalau dibandingkan antartoko, BerryBenka.com menjual LadyVoo dengan harga paling ekonomis. Dampaknya, harga di tempat yang satu murah, tapi yang lain mahal. Maka, saya ingin buat pemisahan jadi dua line saja sekalian. Second line nantinya akan dimasukkan ke BerryBenka.com. Beda dengan Lady Voo, yang ini akan diproduksi massal. Saya sudah membayangkan, dengan kisaran harga Rp 70.000-Rp 100.000 yang lebih murah, sasaran pasarnya remaja 15-20 tahun, kelas menengah ke bawah.

Intinya, saya tetap ingin membesarkan Lady Voo dulu dengan makin rajin ikut pameran. Koleksi akan  saya perbanyak juga. Selain busana perempuan, saya ingin bikin busana laki-laki, anak, berikut aksesoris. Lady Voo nggak mau jadi UKM terus. Kalau bisa, justru akan jadi "kerajaan fashion"-nya Indonesia. Dalam hal ini, saya terinspirasi oleh Zara yang bermula dari UKM biasa kemudian menjadi merek dunia.

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters recommends: Jousting With Toothpicks - The Case For Challenging Corporate Journalism http://www.medialens.org/index.php/alerts/alert-archive/alerts-2013/719-jousting-with-toothpicks-the-case-for-challenging-corporate-journalism.html.

Diposkan oleh iwan di 01.42  

0 komentar:

Poskan Komentar