“Strategi Bisnis dalam Pelemahan Ekonomi Global - BeritaSatu”

Minggu, 02 Desember 2012

“Strategi Bisnis dalam Pelemahan Ekonomi Global - BeritaSatu”


Strategi Bisnis dalam Pelemahan Ekonomi Global - BeritaSatu

Posted: 01 Dec 2012 04:31 PM PST

Kinerja ekonomi tahun ini berhasil tumbuh positif di tengah kondisi ekonomi dan keuangan global semakin memburuk dan kurang menentu sebagai akibat berlarut-larutnya krisis di Amerika Serikat dan Eropa. Hingga kini, perekonomian Amerika Serikat masih menghadapi tantangan sulit menuju pemulihan.

Amerika Serikat tertimbun utang yang jumlahnya mencapai US$14,7 triliun dollar, yang melebihi 100 persen dari PDB (Produk Domestik Bruto). Amerika Serikat mengalami defisit anggaran, yang jumlahnya mencapai US$1,8 triliun. Amerika Serikat mengalami defisit perdagangan luar negeri.

Amerika Serikat belum bisa keluar dari krisis, sudah disusul oleh Uni Eropa. Dimulai dari Yunani. Terus menyebar ke seluruh daratan Eropa. Krisis ini telah mengancam mata uang euro.

Semua krisis di daratan Eropa itu, bermula dari krisis utang. Yunani memiliki utang yang sudah lebih 150 persen dari PDB. Spanyol memiliki utang yang lebih 170 persen dari PDB. Merembet ke Itali yang memiliki utang hampir mencapai 200 persen dari PDB. Sekarang Prancis digerus utang yang lebih 150 persen dari PDB. Irlandia menghadapi situasi yang sama utangnya melebihi dari 170 persen PDB.

Dampak krisis Eropa terhadap perekonomian relatif kecil karena eksposure perekonomian kita terhadap Eropa tidak terlalu besar sehingga sektor keuangan dan perdagangan masih kuat menghadapi pengaruh krisis Eropa.

Misalnya, eksposure utang perbankan ke Eropa, baik dalam bentuk surat berharga, trade finance cukup terbatas, yaitu Rp150 triliun. Sementara itu, total seluruh aset perbankan Rp3.000 triliun. Selama ini eksposure utang perbankan lebih besar ke Amerika, dibanding Eropa.

Meski fundamental ekonomi dan besarnya potensi ekonomi Indonesia masih mampu mempertahankan kinerjanya di tengah dampak negatif krisis AS dan Eropa tersebut, namun ada beberapa hal yang perlu memperoleh perhatian agar perekonomian tetap tumbuh kuat.

Pertama, lesunya perekonomian global akibat krisis Eropa dan AS telah mengakibatkan penurunan permintaan sehingga kinerja ekspor menurun. Beberapa negara mitra dagang dan investasi seperti China mulai mengalami pelemahan ekonomi. Predikat China sebagai negara industri baru terancam, menyusul adanya indikasi pelemahan pada sektor industri manufaktur negeri Tirai Bambu itu.

Selain pertumbuhan industri yang melambat, nilai ekspor China pun menyusut dalam tujuh bulan terakhir. Ekspor tujuan pasar Eropa juga diperkirakan akan turun 10-20 persen, meski ekspor kita ke Eropa tidak terlalu besar. Namun penurunan kinerja ekonomi mitra dagang utama akan berpengaruh terhadap ekspor kita.

Ancaman pelemahan ekspor akibat krisis Eropa harus mendorong pemerintah mengambil langkah untuk fokus pada investasi dan konsumsi di dalam negeri dengan harapan sektor perdagangan dan keuangan dapat menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Selama ini struktur ekonomi Indonesia yang masih berorientasi pada kekuatan permintaan domestik dengan porsi konsumsi sekitar 67% masih akan mampu menjadi bantalan terhadap dampak penurunan ekonomi dunia.

Kedua, kuatnya fundamental ekonomi Indonesia dengan dukungan pasar dan sumber daya alam yang besar masih menjadi daya tarik bagi investasi ke depan, baik PMA maupun PMDN. Dalam dua tahun terakhir jumlah PMA dan PMDN, baik dalam bentuk pemberian izin maupun nilai investasi, memang telah meningkat pesat.

Ketiga, jumlah dana di lembaga keuangan khususnya perbankan Indonesia yang belum mampu dimanfaatkan sektor riil masih besar. Kelebihan likuiditas inilah yang selama ini terpaksa diserap oleh Bank Indonesia.

Menghadapi ancaman krisis AS dan Eropa, selain memacu permintaan domestik, konsumsi masyarakat perlu ditingkatkan. Demikian pula, penciptaan lapangan kerja dan pengentasan kemiskinan dapat terus berlanjut.

Kebijakan makroekonomi, kebijakan fiskal Pemerintah dan kebijakan moneter Bank Indonesia harus diarahkan untuk dapat menstimulus perekonomian khususnya dari sisi permintaan dengan tetap menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.

Bank Indonesia perlu menempuh langkah-langkah untuk mempercepat penurunan suku bunga perbankan dalam rangka mendorong penyaluran kredit dan pembiayaan lain bagi dunia usaha.  Stimulus fiskal dapat berupa insentif pajak, penyediaan tambahan anggaran, maupun peningkatan penyerapan anggaran yang telah disediakan.

Sementara itu, dari sisi kebijakan sektoral dan struktural, peningkatan investasi dan kapasitas perekonomian untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dari sisi penawaran perlu dilakukan melalui percepatan berbagai program yang selama ini telah dicanangkan untuk peningkatan investasi dan infrastruktur, khususnya dalam Master Plan untuk Percepatan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI).

Kebijakan perdagangan juga harus diarahkan untuk memperluas penetrasi pasar ekspor Indonesia khususnya ke negara-negara emerging economies yang masih tumbuh kuat, baik di Asia, Afrika maupun Amerika Latin.

Dalam upaya meningkatkan ekspor yang telah dicapai maupun yang akan ditingkatkan di masa mendatang sangat dipengaruhi oleh tiga faktor penting, yaitu: perkembangan ekonomi dan perdagangan dunia, iklim usaha yang memungkinkan dunia  usaha untuk tumbuh dan berkembang secara wajar menurut prinsip  ekonomi rasional serta perilaku dunia usaha dalam bersaing merebut pasar di luar negeri.

Ketiga faktor ini harus berjalan seiring agar dunia usaha dan ekspor kita dapat meningkat. Jika salah satu faktor tersebut masih menghadapi kendala, maka perkembangan ekspor juga akan terganggu.

Dalam menghadapi pelemahan ekspor, Departemen Perdagangan setidaknya melakukan empat strategi yakni, memprioritaskan pendekatan ekspor dengan mengedepankan nilai tambah ketimbang volume, memaksimalkan kegiatan promosi melalui kegiatan pameran di luar negeri dan dalam negeri, melakukan ekspansi ke pasar nontradisional melalui kegiatan misi dagang dan penguatan pasar domestic.

Selain langkah-langkah tersebut, sesungguhnya tidak kalah penting dalam upaya meningkatkan daya  saing ekspor  produk  nasional  dalam menembus  pasaran  global mendorong kemampuan  dalam  melakukan inovasi, mendiversifikasi  produk, pasar  dan  pelakunya,  untuk meningkatkan  upaya terobosan pasar luar negeri. Menciptakan jalur arus barang dan jasa  yang  mantap baik  dalam  negeri maupun luar negeri  sehingga harga  di  pasar stabil.  

Meningkatkan kemampuan lembaga  ekonomi  terutama koperasi  dan  golongan  ekonomi  lemah,  dalam  perdagangan  dan pemasaran  sehingga  mempelancar  arus  barang  dan  jasa   serta mendorong  persaingan yang sehat dan meningkatkan daya  saing  di pasar dunia.

Termasuk di dalamnya mengusahakan  tertibnya  usaha   niaga   sehingga tercipta  iklim usaha yang sehat dan kepastian usaha  yang  makin mantap, serta terlindungnya kepentingan konsumen.

Transparansi  ini  untuk menumbuhkan tertib dan  kepastian  usaha serta terlindungnya kepastian konsumen. Termasuk  dalam kaitan  ini  adalah perlunya etika dan moralitas  bisnis pelaku ekonomi.

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters recommends: Gaza Blitz - Turmoil And Tragicomedy At The BBC.

Diposkan oleh iwan di 01.13  

0 komentar:

Poskan Komentar