“Selama Puasa, Laba Bisnis Katering Meroket”

Jumat, 17 Agustus 2012

“Selama Puasa, Laba Bisnis Katering Meroket”


Selama Puasa, Laba Bisnis Katering Meroket

Posted: 15 Aug 2012 04:39 PM PDT

Bulan Ramadan benar-benar bulan penuh berkah bagi bisnis makanan. Mulai dari kaki lima, warung kecil, hingga resto mahal semua merasakan nikmatnya laba berlipat. Termasuk di dalamnya adalah pengusaha katering. Sejak memasuki bulan Ramadan 21 Juli, pesanan katering menunjukkan peningkatan hampir tiga kali lipat. Umumnya dipesan untuk berbuka puasa bersama.
Koki membuat nasi tumpeng di dapur "Proklamasi Catering", tempat pembuatan nasi tumpeng, Jakarta, 6 Agustus 2003. …
Salah satu peningkatan pemesanan katering terlihat di AntoCatering yang berlokasi di Perumahan Taman Kota Bekasi, Bekasi, Jawa Barat. Berdiri sejak lima tahun lalu, AntoCatering biasanya melayani jasa katering rumahan. Artinya melayani pelanggan harian yang umumnya tidak memasak karena berbagai alasan. Bisa karena sibuk sehingga tidak sempat memasak hingga soal kepraktisan.

 "Untuk hari-hari biasa, jumlah pelanggan rumahan di bawah 100 orang," kata Anto Budi Santoso selaku pemilik AntoCatering kepada Vista, Sabtu (27/7/2012).

Namun di bulan Ramadan ini, pemesanan kateringnya meningkat tajam. "Di bulan puasa pemesanan katering bisa mencapai 2.500 kotak setiap harinya. Sampai-sampai untuk katering harian kita tutup sementara waktu, karena nggak ada tenaga buat menyiapkan pesanan," kata Anton.

Pesanan nasi kotak ini umumnya berasal dari pengelola-pengelola masjid, perorangan yang menyelenggarakan acara buka puasa bersama, ada juga pesanan dari event organizer. "Puasa memang mendatangkan rezeki bagi pengusaha katering, terutama usaha katering harian seperti kami," tuturnya.

Sebagai daya tarik pelayanan bagi para pelanggan, menu katering dibuat bervariasi. Anton selalu menyusun menu harian selama satu bulan penuh. Daftar menu itulah yang akan diedarkan kepada para pelanggannya.  "Jadi kalau pelanggan tidak suka atau alergi menu tertentu misalnya,  dua hari sebelum hari H (pengiriman) sudah harus konfirmasi minta ganti menu," jelasnya. Hal ini memudahkan pelanggan, sehingga mereka bisa menyantap menu yang disukainya.

Khusus untuk calon pelanggan, Anto memberi kesempatan sehari kepada mereka untuk mencoba menu katering. Memang tidak gratis, namun mereka akan diberikan diskon khusus.  "Kalau memang nggak cocok dengan masakan kami, besoknya staf saya tinggal ambil tempat makanannya sekaligus uang," katanya. Nah, selanjutnya bagi mereka yang berminat berlangganan, bisa bayar untuk satu minggu ke depan.

Kesibukan serupa terlihat di RM Makan Ayam Bakar Mas Mono, cabang Ruko Taman Galaksi, Bekasi Selatan, Sabtu (27/7/2012) sekitar pukul 15.00 WIB. Dua staf RM Mas Mono tengah menyiapkan kotak makanan. Salah satu staf memasukkan potongan paha dan dada ayam bakar ke dalam masing-masing kotak yang dijejer di atas meja. Ayam bakar tersebut dilengkapi lalapan seperti kol, mentimun, selada dan sambal terasi yang aromanya lezat menggoda. Terhitung hari itu sampai pukul 15.00 WIB, RM Mas Mono telah menerima pesanan 140 kotak nasi berikut ayam bakar lengkap dengan lalapan serta sambal.

Menurut Udin, seorang penyelia di tempat ini, keberadaan RM Mas Mono di Ruko Galaksi masih terbilang baru. Setiap harinya, orang lebih cenderung datang untuk makan di tempat. "Sebelum puasa, orang hanya datang untuk makan di sini. Tidak memesan nasi kotak," akunya. Setelah puasa, pesanan nasi kotak mulai bergeliat. "Kalau di sini kebetulan yang memesan bukan dari masjid-masjid, tapi ibu-ibu arisan yang ingin menggelar acara buka puasa," kata Udin yang terlihat sigap dan ramah mengepak nasi kotak ke dalam dus untuk diantar.

Menurut Udin, pemesanan nasi kotak belum stabil. "Kadang dalam sehari ada banyak pesanan, tapi di hari lain tidak ada order. Mungkin karena cabang Mas Mono ini kan banyak sekali, jadi sebagian ada yang memesan di cabang lain," jelasnya.

Di bulan puasa, keberadaan katering memang sangat dibutuhkan para ibu. Tak hanya ibu yang bekerja, ibu rumah tangga pun merasa menggunakan katering bisa lebih berhemat biaya dan tenaga. Shinta (40) mengaku sering memesan katering ketimbang masak sendiri. "Habisnya yang makan di rumah cuma saya sama dua anak saya. Suami seringkali masih di kantor saat berbuka puasa dan makan di rumah hanya pas sahur. Jadi keputusan untuk memilih katering, lebih bijaksana dan simpel," katanya.

Terlebih lagi Shinta tak punya pembantu rumah tangga. "Katering enak juga, masakannya variatif. Kalau saya nggak ada pembantu, entar masakannya itu-itu saja. Jadi mendingan pesan katering, Cuma saya pilih katering hati-hati juga, enggak mau pakai jasa mereka yang suka pakai penyedap," tutur Shinta yang enggan menyebut pengeluarannya untuk katering. (Marmi Hidayah)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters recommends: Incinerating Assange - The Liberal Media Go To Work.

Diposkan oleh iwan di 01.31  

0 komentar:

Poskan Komentar