“EDITORIAL BISNIS: Konglomerasi di Pasar Modal”

Jumat, 10 Agustus 2012

“EDITORIAL BISNIS: Konglomerasi di Pasar Modal”


EDITORIAL BISNIS: Konglomerasi di Pasar Modal

Posted: 10 Aug 2012 01:12 AM PDT

Dua hari yang silam, surat kabar ini menurunkan berita tentang kinerja tujuh kelompok saham para konglomerat dan saham-saham perusahaan pelat merah (BUMN).

Berdasarkan data historis yang dikumpulkan Bisnis Indonesia Intelligence Unit (BIIU), saham Grup Ciputra mencatat rerata pertumbuhan tertinggi selama tahun ini, yakni sebesar 25,38%.

Itu berarti kalau seorang investor memasukkan saham-saham Grup Ciputra dalam keranjang portofolionya, dia mendapat keuntungan sebesar 25,38% sepanjang tahun ini.

Selain kelompok saham Ciputra, sekuritas dari Grup Panin dan Lippo mencatat kinerja yang meyakinkan.

Kinerja saham ketiga grup ini ditopang oleh se­­­jumlah anak perusahaan yang bergerak di sektor properti yang saat ini menjadi incaran pemodal selama tahun ini.

Tak mengherankan kalau emiten yang mengalami pergerakan paling tinggi dan menjadi penopang Grup Ciputra dan Lippo masing-masing adalah PT Ciputra Surya Tbk dan PT Lippo Cikarang Tbk yang mengalami pertumbuhan di atas 100%.

Uraian berdasarkan saham menurut kelompok konglomerat itu tentu saja bisa membantu pemo­dal dalam memilih saham.  

Tentu saja sangat jarang pemodal yang memasukkan sa­­­ham satu kelompok usaha dalam sa­­­tu keranjang investasi. Le­­­bih banyak mereka memilih s­a­­­ham individual dengan berbagai alasan fundamental dan teknis.

Misalnya secara tek­­nis, kalau saham yang harganya terlalu tinggi atau sedang mengalami tren koreksi dihindari pemodal.

Lalu secara fundamental, pemodal yang rasional akan tetap memperhatikan return on equity (ROE) yang biasanya harus lebih tinggi dari bunga bank.

Faktor lain adalah pemodal diminta untuk fokus pada perusahaan yang untung (positive earnings), memiliki rasio utang pada aset (debt equity ratio) yang kecil dan saham-saham yang  memiliki kapitalisasi yang besar dan likuid.

Selain demi kepentingan seleksi saham, komparasi saham-saham para konglomerat itu mesti menjadi masukan para pemilik kelompok usaha itu untuk mengevaluasi dirinya.

Mesti disadari bahwa hampir semua para kong­lomerat di Indonesia, terutama grup-grup usaha yang memiliki beberapa emiten di lantai bursa mendapat manfaat yang luar biasa besar dari pasar modal. Mereka melakukan ekspansi dan pengembangan usahanya  dengan menggunakan dana publik ketika mereka melakukan penjualan saham perdana (initial public offering).

Karena itu, sebagai ungkapan tanggung jawab para konglomerat kepada publik di pasar modal, mereka mesti dengan sungguh-sungguh mengembangkan usahanya agar kinerja perusahaannya terus meningkat. Publik sebagai pemegang saham  mendapatkan manfaat dari kinerja perusahaan yang kinclong melalui dividen yang dibagikan setiap tahun dan keuntungan (capital gain) dari transaksi saham di lantai bursa.

Hanya dengan saling memberi keuntungan seperti itu pasar modal bisa menjadi agen pemerataan kekayaan di negeri ini, tentu selain melalui pajak yang dibayarkan kepada negara dan penghidupan karyawan yang bekerja di perusahaan-perusahaan tersebut.

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters recommends: Incinerating Assange - The Liberal Media Go To Work.

Diposkan oleh iwan di 01.31  

0 komentar:

Poskan Komentar