“Mafia Pajak-Bisnis Bermain - Padang Ekspres”

Senin, 11 Juni 2012

“Mafia Pajak-Bisnis Bermain - Padang Ekspres”


Mafia Pajak-Bisnis Bermain - Padang Ekspres

Posted: 11 Jun 2012 01:02 AM PDT

Mafia Pajak-Bisnis Bermain

KPK: James bukan Pemain Baru

Padang Ekspres • Senin, 11/06/2012 14:37 WIB • *

Jakarta, Padek—Komisi Pem­­­­berantasan Korupsi (KPK) terus mendalami ke­ter­libatan dua tersangka kasus suap pega­wai pajak KPP Si­doa­rjo Selatan, Tommy Hen­dratno dan James Gu­­narjo. KPK pun yakin bahwa dua orang tersebut hanya pe­ran­tara. Pi­hak-pihak di bela­kang ke­dua­nya pun jadi incaran KPK.

 

"Yang kami hadapi sema­kin riil, yakni mafia pajak yang s­e­­telah berkolaborasi dengan ma­fia bisnis," kata Wakil Ketua KPK Busyro Muqoddas kepa­da Koran ini kemarin (10/9). Ka­rena itu, lanjut Busyro, KPK akan memaksimalkan proses pendalaman dan penyidikan dalam kasus ini.

 

Tapi KPK tidak bisa gega­bah dalam menuntaskan kasus ini. Komisi antikorupsi yang di­pimpin Abraham Samad itu me­­negaskan, akan terus me­ngum­pulkan bukti-bukti ma­te­riil. "Dalam proses pe­nega­kan hukum pidana ter­masuk korupsi pajak, KPK harus taat asas hukum pembuktian," tutur mantan Ketua Komisi Yu­disial itu.

 

Proses penggeledahan di be­berapa tempat oleh para pe­nyi­dik KPK adalah upaya un­tuk pengumpulan barang bukti tersebut.

 

Dokumen-dokumen yang telah disita hasil penggeledahan akan dikaji. Jika berhubungan dengan penyuapan Tommy dan James, maka akan digunakan sebagai barang bukti.

 

Menurutnya, meski berhadapan dengan mafia pajak yang kini sudah semakin banyak menyeret para pegawai pajak, dan juga mafia bisnis yang memiliki kekuatan yang tidak bisa diremehkan, KPK tetap yakin bisa menuntaskannya. "Kami berkomitmen bekerja lebih keras lagi dan menjaga independensi dan profesionalitas KPK," tegas mantan Dekan Fakultas Hukum UII Yogyakarta itu.

 

 Seperti diberitakan, KPK Jumat (8/6) lalu menggeledah rumah James di Jalan Tekukur Nomor 122B, Bukit Duri, Tebet. KPK juga menggeledah kantor PT Bhakti Investama Tbk (BHIT) di MNC Tower Jakarta.

 

Berdasarkan informasi yang dikumpulkan JPNN, ternyata penyidik menemukan bukti-bukti penting di rumah James. Jika dibanding dengan dokumen-dokumen yang disita dari kantor PT BI. James ternyata merupakan pegawai PT Agis Tbk yang merupakan salah satu anak perusahaan PT BI.

 

Nah, dari penggeledahan barang bukti tersebut, KPK mencium bahwa James bukanlah orang yang awam soal suap menyuap di lingkungan pajak. Diduga, James adalah orang yang sudah biasa "bermain" dengan oknum-oknum petugas pajak.

 

Dia diduga diminta membantu menguruskan pengembalian kelebihan pajak PT BI sebesar Rp 3,4 miliar yang nyantol di Kantor Pelayanan Pajak Wajib Pajak Besar (KPP WP) Jakarta. KPK pun akan menelusuri siapa sebenarnya pihak yang ada di balik peran James.

 

 Alasan Busyro menyebut yang dihadapi KPK adalah mafia pajak dan mafia bisnis sepertinya memang benar. Pasalnya, BHIT bukan perusahaan sembarangan. Perusahaan milik Hary Tanoesoedibjo itu memiliki banyak anak perusahaan.

 

BHIT memiliki bendera bisnis PT Global Mediacom Tbk yang mengelola grup media MNC seperti RCTI, MNCTV, Global TV, dan Seputar Indonesia. BHIT juga membawahi lini bisnis jasa finansial, mulai dari sekuritas hingga asuransi, melalui PT Bhakti Capital Indonesia Tbk. Gurita bisnis Bhakti Investama juga menguasai sejumlah blok minyak dan gas di Papua, serta tambang batu bara di Sumatera Utara dan Kalimantan Timur.

 

Tak hanya James, Tommy juga diduga tidak bermain sendiri. Dia adalah mantan Kasubag Tata Usaha KPP WP Jakarta. Di sanalah dia mulai mengenal wajib pajak yang merupakan perusahaan-perusahaan besar. Seorang sumber di Dirjen Pajak mengatakan, di posisi itulah Tommy banyak mengurus administrasi perpajakan para wajib pajak.

 

Diduga karena pengalamannya itu, Tommy masih menjalankan aksinya dan berhubungan dengan oknum-oknum petugas pajak lainnya di Jakarta. Perannya Tommy sebagai penghubung sekaligus konsultan BHIT. Peran oknum pajak yang lain inilah yang menjadi bidikan KPK.

 

Buka Kasus Restitusi

 

Merespons tekad KPK membongkar jaringan mafia pajak, Komisi III DPR akan mendorong KPK membuka kembali, serta mendalami kasus dugaan manipulasi restitusi pajak. Anggota Komisi III DPR Bambang Soesatyo menilai, kasus dugaan manipulasi restitusi pajak pada periode 2009-2010 akan lebih membantu KPK memahami sepak terjang dari mafia pajak.

 

"Kasus dugaan manipulasi restitusi pajak bisa ditelusuri bersama kasus dugaan suap Tommy," ujar Bambang di Jakarta, kemarin.

 

 Menurut Bambang, mendalami modus operandi mafia pajak tidak cukup dengan kasus dugaan suap yang melibatkan Tommy. "Sebab, modusnya relatif lebih sederhana. Karena itu, mengingat DPR gagal menggolkan Pansus Mafia Pajak, KPK sebaiknya membuka kembali dugaan manipulasi restitusi pajak yang kasusnya pernah dilimpahkan ke Panja Perpajakan Komisi III DPR. Ini sekaligus mengukur dan menguji kesungguhan serta keberanian KPK memerangi mafia pajak," ujarnya.

 

Dirjen Pajak terdahulu pernah mengabulkan permintaan restitusi pajak Rp 7,2 triliun rupiah yang diminta PT Wilmar Nabati Indonesia (WNI) dan PT Multimas Nabati Asahan (MNA) milik Wilmar Group. Mayoritas atau 96 persen saham WNI-MNA itu dikuasai Tradesound Investment Ltd yang beralamat di PO BOX 71, Craigmuir Chamber Road Town, Tortola, British Virgin Island.

 

Beberapa pejabat di lingkungan Ditjen Pajak mengendus dugaan pidana dalam pengajuan restitusi dua perusahaan itu. Pada Oktober dan November 2009, Kepala KPP Besar Dua mengajukan Usul Pemeriksaan Bukti Permulaan (penyelidikan) atas dugaan tindak pidana oleh WNI dan MNA. Usulan ini tidak digubris Direktur Intelijen dan Penyidikan Pajak maupun Dirjen Pajak.

 

Bambang menilai, kasus dugaan restitusi pajak juga termasuk kasus besar. "Kalau KPK konsisten dengan tekadnya membongkar jaringan mafia pajak, kasus dugaan manipulasi restitusi pajak ini bisa mengantar KPK mendekati sosok-sosok yg mengendalikan jaringan mafia pajak," tandasnya. (bay/jpnn)

[ Red/Administrator ]

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters recommends: Donate to Wikileaks.

Diposkan oleh iwan di 01.06  

0 komentar:

Poskan Komentar